Survei Global: Tiongkok Lebih Disukai daripada AS di 25 Negara, Xi Ungguli Trump
Beritabaru1.com – Hasil survei global terbaru oleh Pew Research Center mengungkapkan bahwa Tiongkok dan Presiden Xi Jinping kini lebih diminati oleh sebagian besar masyarakat internasional dibandingkan Amerika Serikat (AS) dan Donald Trump. Survei yang mencakup 36 negara dan wilayah di enam benua ini menunjukkan bahwa Tiongkok menempati posisi lebih unggul di 25 negara, termasuk Kanada, Meksiko, dan sejumlah negara Eropa. Pencapaian ini menandai pergeseran signifikan dalam persepsi global terhadap kedua superpower tersebut.
Perbandingan Persepsi: Tiongkok vs. AS
Dalam survei ini, AS masih mendominasi di enam negara, seperti Polandia, Filipina, Korea Selatan, India, Jepang, dan Israel. Di lima negara lainnya, persepsi terhadap kedua negara dinilai seimbang. Total responden mencapai lebih dari 42.000 orang, yang diwawancarai antara 8 Februari hingga 13 Mei. Hasil penelitian ini memperlihatkan tren dominasi Tiongkok yang semakin kuat, terutama di wilayah yang sempat mendukung AS sebelumnya.
Dari 20 negara yang terdata sejak 2023, 46% responden menilai Tiongkok secara positif, sedangkan hanya 36% yang menilai AS demikian. Angka ini berbanding terbalik dengan tiga tahun lalu, di mana 58% responden lebih positif terhadap AS, sementara 32% terhadap Tiongkok. Perubahan ini menunjukkan bahwa citra Tiongkok semakin mendapat apresiasi, sementara AS mengalami penurunan yang cukup signifikan.
“Pandangan terhadap AS berada pada atau mendekati level terendah dalam sejarah,” kata Laura Silver, Wakil Direktur Pew Research Center yang terlibat dalam penelitian tersebut.
Menurut Silver, ini pertama kalinya dalam hampir dua dekade survei global menunjukkan bahwa Tiongkok lebih dihormati daripada AS. Di 22 negara, kepercayaan publik terhadap Xi Jinping lebih tinggi dibanding Trump, meski keduanya masih dianggap kurang populer secara umum. Faktor utama yang memengaruhi hasil ini adalah peran Tiongkok sebagai mitra perdagangan dan pendorong stabilitas ekonomi di berbagai wilayah.
Faktor Penurunan Citra AS dalam Survei Global
Ada satu kategori di mana AS masih unggul, yaitu penghormatan terhadap kebebasan individu, meski selisihnya tidak besar. Silver menjelaskan bahwa penurunan citra AS bisa disebabkan oleh konflik internasional yang memicu ketidakpuasan masyarakat. Misalnya, perang dagang antara AS dan Tiongkok, serta kebijakan Trump terhadap Iran, membuat banyak negara merasa AS kurang netral dalam menyelesaikan isu global.
“Ada hubungan yang nyata antara pecahnya perang dan munculnya pandangan bahwa AS tidak berkontribusi pada perdamaian serta stabilitas,” tambah Silver.
Peningkatan citra Tiongkok juga didukung oleh keberhasilannya dalam mengatasi krisis ekonomi pasca-pandemi. Negara ini dinilai sebagai mitra yang andal dalam perekonomian global, sementara AS terlihat lebih terlibat dalam konflik geopolitik. Di wilayah Amerika Latin, misalnya, Tiongkok mengalami peningkatan signifikan, dengan respons positif yang lebih tinggi dibanding AS. Hal ini dipicu oleh kebijakan ekonomi yang lebih fleksibel dan kemampuannya dalam membangun hubungan bilateral.
Perubahan ini tidak hanya terjadi di wilayah Asia dan Eropa, tetapi juga di negara-negara yang sebelumnya dekat dengan Washington, seperti Kanada. Dalam survei global terbaru, persentase penilaian positif terhadap AS turun drastis dari 57% menjadi 33%, sementara Tiongkok melonjak dari 14% ke 44%. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh kebijakan Trump yang menimbulkan ketegangan dengan Kanada, termasuk penerapan tarif dan rencana memperluas dominasi AS di kawasan tersebut.
Kedutaan Besar Tiongkok di Washington mengungkapkan bahwa hasil survei global ini memperkuat pengakuan internasional terhadap kemajuan Tiongkok di berbagai bidang, seperti infrastruktur, teknologi, dan diplomasi. Di sisi lain, AS harus menghadapi tantangan untuk memulihkan citranya, terutama setelah konflik dengan Iran memperburuk pandangan negatif di sejumlah negara. Meski demikian, beberapa negara besar Eropa, seperti Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol, juga mulai mengalihkan preferensi ke Tiongkok.
Hasil survei global ini menunjukkan bahwa masyarakat internasional mulai mengakui Tiongkok sebagai aktor penting dalam penyelesaian masalah global. Faktor-faktor seperti keberhasilan ekonomi, kebijakan luar negeri yang stabil, serta kontribusi dalam proyek-proyek multilateral menjadi alasan utama peningkatan reputasi Tiongkok. Sementara AS harus memperbaiki strategi untuk kembali menjadi pusat preferensi di berbagai belahan dunia.
Gedung Putih belum memberikan tanggapan terhadap hasil survei global ini. Namun, pergeseran ini memberi sinyal bahwa Tiongkok semakin menjadi kekuatan dominan dalam urusan dunia, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat. Meski demikian, pertumbuhan citra Tiongkok tidak sepenuhnya merata, dengan beberapa negara tetap menilai AS sebagai pilihan utama dalam hal demokrasi dan kebebasan individu.
