What Happened During: Banjir dan Tornado Topan Maysak Tewaskan Belasan Orang
Bencana Alami di Wilayah Selatan dan Utara
Beritabaru1.com – Topan Maysak, yang terjadi pada akhir pekan lalu, menyebabkan bencana alam besar di berbagai wilayah Tiongkok. Badai ini mengakibatkan setidaknya 15 korban jiwa, 60.000 warga dievakuasi, dan 90.000 penduduk lainnya terkena dampak langsung. Banjir dan tornado yang terjadi menghancurkan rumah-rumah, jalan-jalan, dan menyebabkan kerusakan masif di kota-kota seperti Yunbiao dan Renhe. Di Guangxi, wilayah selatan, banjir tiba secara mendadak, menenggelamkan pemukiman warga dalam waktu singkat.
Pasukan darurat harus bekerja ekstra untuk menyelamatkan korban yang terjebak di daerah terkena. Sementara itu, jaringan listrik, internet, dan komunikasi di kawasan terdampak Topan Maysak sempat lumpuh, memperparah situasi evakuasi. Banyak warga menyatakan kaget karena air menggenang dengan cepat, hingga mengancam kehidupan mereka. Angka korban meninggal terus bertambah karena kondisi cuaca ekstrem yang terjadi pada 28 April 2026.
“Badai ini datang tanpa peringatan, air menggenang rumah kami dalam hitungan menit. Kami tidak sempat menyelamatkan barang-barang,” kata warga desa Renhe bernama Zhou kepada BBC. Ia menambahkan, keterbatasan perahu penyelamat membuat evakuasi terhambat, dan logistik terus berkurang.
Kerusakan di Hubei: Dua Tornado Langka Menyebabkan Kematian
Di Provinsi Hubei, wilayah tenggara Tiongkok, Topan Maysak memicu dua tornado langka yang menimbulkan dampak serius. Fenomena ini menyebabkan 11 kematian dan kerusakan besar di kota Ezhou serta Huanggang. Di Ezhou, angin kencang hingga 100 km/jam meruntuhkan bangunan, sementara di Huanggang, jendela apartemen hancur dan beberapa warga terluka karena serpihan kaca.
Salah satu korban, seorang pria, terlempar dari lantai 12 setelah terkena angin tornado, lalu jatuh ke tanah. Ia sekarang dalam perawatan intensif di rumah sakit setempat. Mahasiswa di Huanggang juga mengalami trauma setelah melihat barang-barang terbang keluar dari jendela asramanya. “Kami tak percaya mata kita. Serpihan kaca mengenai wajah dan lengan kami,” ujar salah satu mahasiswa.
“Tornado datang dengan kecepatan tinggi, seolah-olah ada badai yang menghantam kami dari belakang. Saya hanya bisa berlari kecil sambil menutupi tubuh dengan selimut,” tambah warga desa lokal yang terkena dampak.
Kondisi Pasca-Bencana dan Penanganan Darurat
What Happened During – Sebagai respons terhadap bencana alam, Pemerintah Tiongkok telah mengambil langkah darurat untuk memulihkan kondisi daerah terdampak. Presiden Xi Jinping memberikan instruksi agar operasi penyelamatan dan bantuan dilakukan secara intensif. Ia menekankan pentingnya fokus pada evakuasi korban, pemulihan tempat tinggal, serta peningkatan kesiapsiagaan terhadap bencana serupa di masa depan.
Korban yang terdampak Topan Maysak terus meningkat, dengan lebih dari 10.000 orang terluka. Banyak warga mengalami kehilangan properti, terutama di kawasan yang terkena banjir. Sejumlah rumah hanyut, sementara jalan raya dan jembatan rusak parah, mengganggu akses ke daerah terpencil. Berbagai organisasi keamanan dan layanan darurat bekerja keras untuk menemukan korban yang terjebak, meskipun kondisi cuaca masih berpotensi memburuk.
“Kami sedang berjuang untuk menemukan warga yang tersangkut, tetapi badai ini terlalu besar. Kami harap bantuan dari luar daerah bisa segera tiba,” kata seorang petugas penyelamat di Yunbiao.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
What Happened During – Selain korban jiwa, bencana alam akibat Topan Maysak juga menyebabkan kerugian ekonomi besar. Sektor pertanian dan perkebunan terkena dampak langsung, dengan puluhan hektar tanaman hanyut atau hancur. Pabrik-pabrik di kawasan terdampak juga berhenti beroperasi, mengganggu rantai pasok industri lokal. Selain itu, air menggenang menyebabkan kontaminasi lingkungan dan ancaman penyakit akibat sampah dan sisa makanan yang terbawa banjir.
Para ahli cuaca menyatakan bahwa Topan Maysak merupakan badai pertama musim penghujan 2026 yang menimbulkan kejadian langka seperti tornado. Analisis menunjukkan bahwa benturan udara dingin dan hangat di wilayah Hubei memicu fenomena ini. Pemetaan cuaca akurat menjadi penting untuk memperkirakan dampak serupa di masa depan, terutama karena intensitas badai meningkat secara drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
Persiapan dan Peringatan Sebelumnya
Sebelum Topan Maysak melanda, pihak berwenang Tiongkok telah mengeluarkan peringatan dini. Namun, beberapa warga menyatakan bahwa cuaca ekstrem terjadi lebih cepat dari yang diprediksi. “Kami kaget karena hujan deras mengguyur selama hampir sehari penuh, dan banjir datang tanpa pemberitahuan,” kata warga kota Renhe.
Badai ini memicu perubahan pola curah hujan di berbagai wilayah, dengan beberapa daerah mengalami hujan lebat yang berlangsung hampir 24 jam. Meski pemerintah telah memberikan peringatan, tingkat kesiapan masyarakat bervariasi. Sejumlah desa melakukan evakuasi spontan, sementara wilayah lain masih mengalami kekacauan akibat kepanikan warga.
