Waspada Hantavirus: Dinkes DKI Ingatkan Cara Aman Bersihkan Kotoran Tikus
Waspada Hantavirus – Masyarakat DKI Jakarta diminta untuk lebih waspada terhadap Hantavirus, penyakit yang bisa menyebar melalui kotoran, air liur, atau urine tikus. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengingatkan pentingnya mengambil langkah-langkah pencegahan ketika melakukan pembersihan area rawan tikus. Pembersihan yang tidak tepat bisa meningkatkan risiko penularan virus, sehingga perlu dijaga agar tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan. Dinkes DKI menyampaikan panduan terperinci tentang cara membersihkan lingkungan yang sering dihuni tikus secara aman, sebagai upaya meminimalisir penyebaran Hantavirus di wilayah perkotaan.
Penyebab dan Cara Penyebaran Hantavirus
Hantavirus merupakan jenis penyakit yang ditularkan melalui kontak dengan kotoran tikus, terutama saat bercampur dengan udara. Partikel virus ini dapat terhirup melalui saluran pernapasan, seperti saat membersihkan tempat-tempat kotor yang dihuni tikus. Selain itu, virus ini juga bisa menyebar melalui gigitan langsung atau kontak dengan cairan tubuh tikus yang tercemar. Karena virus ini berpotensi menyebabkan penyakit hantavirus, seperti hantavirus hemorrhagic fever, Ani Ruspitawati mengimbau agar masyarakat mengambil langkah-langkah pencegahan sejak dini. Menurutnya, perlu dilakukan pengawasan lebih ketat terhadap area yang rawan hewan pengerat karena bisa menjadi sumber penyebaran.
Meski Hantavirus bukanlah penyakit baru, seperti wabah Corona yang pernah melanda Jakarta, virus ini tetap menjadi ancaman serius, terutama di musim hujan atau saat tikus lebih aktif. Ani menegaskan bahwa kebersihan lingkungan adalah kunci dalam mencegah penyebaran penyakit ini. Dengan membersihkan area kotor secara rutin, masyarakat dapat mengurangi risiko terpapar virus yang menyebar melalui udara atau kontak langsung. Ia menambahkan bahwa Hantavirus telah diidentifikasi sebagai penyakit yang berpotensi menyebar ke berbagai wilayah, termasuk DKI Jakarta, sehingga perlu diwaspadai.
“Kita harus waspada saat membersihkan area yang memang diduga banyak tikus. Penularan bisa terjadi melalui berbagai cara, jadi prosedur pembersihan harus diperhatikan dengan baik,” jelas Ani di Jakarta Barat, Senin (18/5/2026).
Panduan Pembersihan yang Aman
Dinkes DKI Jakarta menyediakan panduan lengkap untuk masyarakat dalam membersihkan kotoran tikus. Pertama, persiapkan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker untuk mengurangi paparan langsung terhadap cairan tikus. Kedua, gunakan bahan pembersih yang mengandung bahan kimia kuat, seperti deterjen atau pembersih khusus, untuk menghilangkan virus dari permukaan. Ketiga, pastikan area yang dibersihkan dilakukan secara bertahap, mulai dari jauh ke dekat untuk menghindari penghirupan partikel virus. Keempat, lakukan pembersihan pada saat lingkungan kering dan tidak basah agar partikel virus tidak menempel di udara.
Menurut Ani, pembersihan yang dilakukan dengan langkah-langkah tepat bisa menekan angka infeksi Hantavirus. Ia menekankan bahwa konsistensi dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sangat penting, terutama di lingkungan rumah atau tempat kerja. Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk membersihkan tempat sampah secara berkala, menghindari penumpukan sampah yang bisa menjadi tempat berkembang biak tikus. Dinkes DKI juga meminta warga untuk membersihkan bagian-bagian rumah yang sering dihuni tikus, seperti bawah lantai, di belakang toilet, atau di sela-sela tempat tidur.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta menambahkan bahwa penularan Hantavirus tidak hanya terjadi di tempat umum, tetapi juga di lingkungan pribadi. Oleh karena itu, semua lapisan masyarakat diberi kesempatan untuk memahami risiko yang terkait dengan kotoran tikus. Langkah-langkah pencegahan seperti penggunaan masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menghindari kontak langsung dengan benda-benda yang mungkin terkontaminasi harus diterapkan sehari-hari. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, Dinkes DKI berharap dapat mengurangi tingkat penyebaran Hantavirus di Jakarta.
Di samping itu, Ani menyoroti peran penting pengelolaan lingkungan dalam mencegah wabah Hantavirus. Pembersihan rumah, apartemen, atau tempat kerja harus dilakukan secara rutin, terutama di area yang rawan tikus. Ia juga menyarankan untuk memastikan ventilasi udara cukup ketika melakukan pembersihan untuk mencegah penumpukan partikel virus. Selain itu, Ani meminta warga untuk berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong atau pembersihan massal yang diadakan oleh pemerintah daerah.
Dinkes DKI Jakarta menekankan bahwa Hantavirus bisa menyebabkan gejala seperti demam, kelelahan, dan gejala pernapasan yang berat. Jika tidak segera diatasi, penyakit ini bisa berdampak fatal, terutama pada anak-anak, lansia, atau orang dengan daya tahan tubuh rendah. Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan seperti menjaga kebersihan diri, menggunakan alat pelindung, dan membersihkan area rawan harus dilakukan secara aktif. Dengan semangat waspada Hantavirus, masyarakat DKI Jakarta diharapkan dapat mengurangi risiko penularan virus ini secara signifikan.
