8.846 Kursi SDN di Ciamis Kosong pada SPMB 2026
Beritabaru1.com – Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menjadi sorotan dalam proses penerimaan siswa baru (SPMB) 2026, terutama di tingkat Sekolah Dasar Negeri (SDN). Dikutip dari data Dinas Pendidikan setempat, jumlah kursi yang kosong mencapai 8.846 dari total 22.263 kapasitas. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan sekitar 60,27 persen siswa yang diterima. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran karena sejumlah sekolah hanya menerima satu siswa, seperti SDN 2 Salakaria, Kecamatan Sukadana, yang justru menjadi contoh paling ekstrem.
Mengapa Kursi SDN di Ciamis Tersisa?
Kepala Dinas Pendidikan Ciamis, Erwan Darmawan, mengungkapkan bahwa jumlah pendaftar di tingkat SDN lebih rendah dari kuota yang ditetapkan. “Total 22.263 kursi hanya terisi oleh 13.417 siswa, artinya 8.846 kursi masih kosong,” jelasnya. Erwan menyebutkan bahwa penyebab utama keterbatasan pendaftar adalah kurangnya minat calon siswa, baik karena faktor ekonomi, preferensi sekolah swasta, maupun perubahan kebijakan pendidikan. Ia menegaskan bahwa Dinas Pendidikan sedang menganalisis data untuk menemukan solusi, termasuk memperbaiki sistem pendaftaran agar lebih efektif menarik peserta.
Dalam proses SPMB, terdapat penurunan peserta yang terjadi di sejumlah sekolah SDN. Menurut Erwan, hal ini tidak hanya dipengaruhi oleh minat siswa, tetapi juga oleh faktor-faktor lain seperti ketidakpuasan terhadap fasilitas sekolah atau kurangnya promosi kebijakan pendidikan. “Kami sedang mencari masukan dari masyarakat dan orang tua siswa untuk memahami lebih jauh,” tambahnya. Namun, ia juga menekankan bahwa transparansi dan keadilan dalam penerimaan siswa tetap dijaga, meskipun adanya perubahan jumlah peserta dianggap wajar.
Kursi Kosong dan Dampak pada Sekolah Lokal
Situasi ini berdampak signifikan pada beberapa sekolah SDN di Ciamis, khususnya yang terletak di daerah terpencil. SDN 2 Salakaria, misalnya, hanya menerima satu siswa pada SPMB 2026, menunjukkan betapa tingkat minat masyarakat terhadap pendidikan dasar di sana sangat rendah. Erwan menjelaskan bahwa sekolah-sekolah dengan jumlah pendaftar yang minim perlu diberi perhatian lebih, termasuk evaluasi kualitas program belajar mengajar atau kebijakan penggunaan anggaran.
Di sisi lain, perbandingan antara SDN dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Ciamis menunjukkan peningkatan. Dari 80 SMPN, total 13.012 kursi terisi oleh 10.311 siswa, atau 79,24 persen. Kuota yang tersisa sekitar 2.701 kursi dianggap masih dalam batas wajar, menurut Erwan. “Proses penerimaan di SMPN lebih stabil karena banyak siswa yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,” katanya. Namun, ia menyoroti bahwa penurunan pendaftar di SDN perlu menjadi prioritas, karena merupakan fondasi utama pendidikan nasional.
Erwan juga mengungkapkan bahwa Dinas Pendidikan Ciamis berencana melakukan evaluasi terhadap sekolah-sekolah yang mengalami penurunan pendaftar. “Kami akan mengadakan rapat evaluasi untuk melihat faktor-faktor yang mendasari,” jelasnya. Langkah ini diharapkan bisa memperkuat daya tarik SDN kepada masyarakat, terutama di daerah dengan jumlah penduduk yang semakin berkurang. Selain itu, ia menambahkan bahwa pihaknya akan berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah yang masih terisi, agar bisa menjadi daya tarik bagi siswa lain.
Berdasarkan data yang diterima, jumlah siswa yang mendaftar pada SPMB 2026 mencapai 13.446 orang, tetapi hanya 13.417 yang lolos verifikasi. Jumlah ini mengindikasikan tingkat kejadian pengunduran diri atau ketidakcocokan antara pilihan sekolah dan kondisi siswa. Erwan menyarankan bahwa kebijakan penerimaan siswa perlu disesuaikan dengan kondisi geografis dan sosial masyarakat, agar tidak ada sekolah yang terlalu sepi. “Kami juga akan mengedukasi orang tua tentang manfaat sekolah negeri, terutama dalam hal biaya pendidikan dan kualitas tenaga pengajar,” terangnya.
Permasalahan kursi SDN yang kosong pada SPMB 2026 menjadi momentum refleksi bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Dinas Pendidikan Ciamis berharap dengan adanya evaluasi, penerimaan siswa baru di masa depan bisa lebih optimal. “Masukan dari masyarakat sangat penting untuk memperbaiki sistem,” pungkas Erwan. Selain itu, pihaknya juga berencana memperluas program kerja sama dengan sekolah-sekolah di luar kota untuk menarik siswa yang bermigrasi ke daerah lain. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan prestasi pendidikan di Kabupaten Ciamis bisa dipertahankan dan ditingkatkan, meskipun menghadapi tantangan saat ini.
