Belasan Gajah Liar Masuk Area Perkebunan di Rumbai, Warga Diminta Waspada
Belasan Gajah Liar Masuk Area Perkebunan – Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat di Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, mengeluhkan adanya keberadaan belasan gajah liar yang masuk ke area perkebunan dan pemukiman. Fenomena ini memicu kekhawatiran warga setempat karena potensi konflik antara satwa dan manusia semakin tinggi. Berdasarkan laporan yang diterima Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, beberapa desa di sekitar Muara Fajar Barat menjadi sasaran aktivitas gajah yang diduga mencari makanan. Tim khusus dari BBKSDA langsung melakukan investigasi untuk memastikan keberadaan dan jumlah satwa liar tersebut.
Penyebab dan Perkembangan Situasi
Menurut Supartono, Kepala BBKSDA Riau, gajah liar yang masuk ke area perkebunan di Rumbai biasanya disebabkan oleh perubahan lingkungan atau kurangnya makanan di hutan lindung. “Gajah cenderung terdorong oleh kebutuhan makanan, terutama saat musim kering yang membuat sumber daya alam di hutan semakin langka,” jelasnya. Dalam kasus ini, laporan menyebutkan bahwa kelompok gajah yang teridentifikasi berjumlah sekitar 11 ekor, dengan lokasi utama berada di kebun durian dan semak belukar. Aktivitas ini diduga terjadi beberapa malam sebelumnya, menyebabkan kerusakan signifikan pada tanaman pertanian warga.
“Lokasi kelompok gajah tersebut berjarak sekitar 500 meter dari kawasan Hutan Lindung Sultan Syarif Hasyim,” ujar Supartono, Minggu (31/5).
Tindakan Mitigasi dan Penanganan Konflik
Untuk mencegah konflik yang lebih serius, tim BBKSDA melakukan penggiringan gajah dengan mengatur jalur masuk dan mengintensifkan pengawasan. “Kita menggunakan suara keras serta api unggun di beberapa titik untuk mengarahkan gajah kembali ke habitat alaminya,” tambah Supartono. Selain itu, tim juga bekerja sama dengan Babinsa dan warga sekitar untuk memantau pergerakan satwa. Kebutuhan ini dilakukan karena gajah dikenal memiliki ingatan tajam dan sering kembali ke tempat yang telah mereka kunjungi sebelumnya.
Kerusakan yang terjadi pada lahan pertanian milik Pak Untung, warga setempat, mencakup sekitar 1,5 hektare tanaman semangka yang hampir habis digaruk. Selain itu, beberapa rumah warga juga mengalami kerusakan akibat pergerakan gajah yang tidak terduga. “Masyarakat dianjurkan meningkatkan kewaspadaan, terutama saat malam hari, karena gajah biasanya lebih aktif di waktu tersebut,” imbau Supartono. Pihaknya juga mendorong warga untuk tidak terburu-buru menangkap atau menghancurkan gajah karena satwa ini dilindungi oleh peraturan perundang-undangan.
Kelompok Gajah dan Lingkungan Hutan Lindung
Kelompok gajah yang masuk ke area perkeb
