Pengingat BMKG: Karhutla Menjadi Ancaman Serius di Musim Kemarau
BMKG Kotim Ingatkan Ancaman Karhutla Seiring – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengeluarkan peringatan terkait risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin mengkhawatirkan seiring memasuki musim kemarau. Kepala BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca saat ini mengalami penurunan kelembapan yang signifikan, sehingga meningkatkan potensi kebakaran di berbagai wilayah. Peringatan ini bertujuan untuk memastikan masyarakat siap menghadapi ancaman karhutla yang diperkirakan akan lebih intens dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“BMKG Kotim Ingatkan Ancaman Karhutla Seiring masuknya musim kemarau yang ekstrem. Kami memperkirakan kondisi ini akan berlangsung hingga 120 hari, dengan intensitas kekeringan yang mempercepat pembakaran di daerah-daerah rawan,” ujar Mulyono.
Peringatan tersebut didasarkan pada data pengamatan cuaca dan proyeksi iklim global yang menunjukkan tren peningkatan suhu dan penurunan curah hujan. Dengan kondisi ini, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau tahun ini tidak hanya lebih panjang, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Kemarau yang Lebih Ekstrem dan Tren Iklim Global
Kemarau yang terjadi di Kotim, menurut Mulyono, mencerminkan perubahan iklim yang semakin jelas terasa. Fenomena El Niño, yang sedang dalam fase intens, berkontribusi pada penurunan intensitas hujan dan kenaikan suhu udara, sehingga mempercepat proses penguapan air. Fenomena ini diperparah oleh pola angin yang tidak stabil, yang mengarah ke kawasan yang lebih kering dan rentan terbakar. Mulyono menjelaskan bahwa kekeringan sejak Juni hingga September 2026 memberi waktu yang cukup panjang bagi masyarakat untuk mengantisipasi kejadian karhutla.
“BMKG Kotim Ingatkan Ancaman Karhutla Seiring masuknya musim kemarau yang diprediksi akan memicu kekeringan berkepanjangan. Kami meminta masyarakat lebih waspada, karena kemarau tahun ini diperkirakan lebih ekstrem dari tahun sebelumnya,” imbuh Mulyono.
Selain itu, analisis BMKG menunjukkan bahwa pola curah hujan berubah dari musim kemarau ke musim hujan, membuat periode kekeringan menjadi lebih tidak terduga. Perubahan ini memperkuat perlunya kebijakan pencegahan yang lebih proaktif, terutama di daerah rawan seperti Kalimantan Tengah.
Kawasan Gambut Rentan dan Prediksi Angin
Kawasan selatan Kotim, seperti Kecamatan Pulau Hanaut, Teluk Sampit, dan Mentaya Hilir Selatan, dinilai paling rentan terhadap dampak kemarau. Wilayah ini didominasi oleh lahan gambut yang mudah terbakar karena struktur tanahnya yang terbuka dan tidak memiliki daya retensi air yang baik. Mulyono menjelaskan bahwa faktor utama yang memperparah kondisi ini adalah arah angin yang diprediksi akan menguat dari timur, sehingga mengarah ke Kota Sampit dan sekitarnya.
“BMKG Kotim Ingatkan Ancaman Karhutla Seiring arah angin yang mempercepat penyebaran asap. Wilayah selatan lebih rentan karena hujan tidak merata, dan lahan gambut bisa menjadi sumber api yang merambat cepat,” tambah Mulyono.
Kondisi ini membutuhkan respons cepat dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat, termasuk penguatan sistem pemantauan dan kesiapan tim pemadam. Mulyono menekankan bahwa daerah gambut merupakan salah satu sumber utama karhutla karena kekeringan bisa memicu api yang sulit dipadamkan.
Kesiapan Masyarakat dan Upaya Pencegahan
BMKG Kotim tidak hanya memberi peringatan, tetapi juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman karhutla. Peringatan ini mencakup tiga aspek utama: penggunaan air secara bijak, pencegahan pembakaran sembarangan, dan menjaga kesehatan. Penurunan debit air di sungai dan danau menjadi perhatian utama, karena kemarau panjang dapat mengakibatkan intrusi air laut dan menurunkan kualitas air minum.
“BMKG Kotim Ingatkan Ancaman Karhutla Seiring mengingatkan masyarakat untuk tidak membakar hutan secara sembarangan. Kebijakan penggunaan air yang hemat sangat penting, terutama di daerah dengan sumber air terbatas,” kata Mulyono.
Selain itu, Mulyono menegaskan bahwa puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus hingga September 2026, sehingga masyarakat harus mempersiapkan diri sejak sekarang. BMKG juga memberikan rekomendasi untuk meningkatkan koordinasi antara pihak pemerintah, masyarakat, dan lembaga terkait dalam mengantisipasi karhutla.
Impact Karhutla pada Lingkungan dan Ekonomi
Karhutla tidak hanya mengancam kehidupan masyarakat, tetapi juga memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Kebakaran yang terjadi di lahan gambut menyebabkan emisi karbon yang tinggi, sehingga berkontribusi pada perubahan iklim dan polusi udara. Selain itu, karhutla merusak ekosistem hutan dan lahan, mengurangi keanekaragaman hayati, serta mengganggu kegiatan pertanian dan perkebunan.
“BMKG Kotim Ingatkan Ancaman Karhutla Seiring memperkirakan bahwa kejadian karhutla di Kalimantan Tengah bisa mengakibatkan kerusakan lingkungan yang berkepanjangan. Masyarakat harus berperan aktif dalam mencegah kebakaran,” imbuh Mulyono.
Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah Kalimantan Tengah sering menjadi episentrum karhutla yang menghasilkan asap berkepanjangan, sehingga memengaruhi kesehatan masyarakat dan sektor pertanian. BMKG menyarankan bahwa kebijakan kewaspadaan sejak dini dan penguatan kesadaran masyarakat akan sangat membantu mengurangi risiko ini.
Persiapan untuk Musim Kemarau 2026
Menjelang musim kemarau 2026, BMKG Kotim terus memantau kondisi cuaca dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat. Data menunjukkan bahwa suhu udara di beberapa daerah akan meningkat hingga 2–3 derajat Celsius dibandingkan tahun sebelumnya, sementara curah hujan tercatat lebih rendah. Kondisi ini memperkuat ancaman karhutla, terutama di kawasan yang memiliki sumber air terbatas.
“BMKG Kotim Ingatkan Ancaman Karhutla Seiring memasuki musim kemarau, kami akan terus memberikan pemantauan dan informasi untuk membantu masyarakat mengantisipasi kejadian kebakaran,” jelas Mulyono.
Selain itu, BMKG juga bekerja sama dengan pihak terkait untuk memperkuat sistem deteksi dini dan respons darurat. Upaya ini diharapkan dapat meminimalkan dampak karhutla dan menjaga keseimbangan lingkungan di wilayah Kalimantan Tengah.
