Facing Challenges: Pascagempa M 6,7 Memicu Antrean Panjang di SPBU Kota Palu
Facing Challenges – Kota Palu kembali mengalami kepanikan besar setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni 2021. Trauma dari pengalaman sebelumnya membuat masyarakat bersaing memperoleh bahan bakar, meski tidak ada indikasi kejadian besar segera terjadi. Facing Challenges terasa nyata ketika ribuan kendaraan berantre di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk memastikan stok bahan bakar tetap aman.
Ketakutan Aftershock yang Memengaruhi Stok BBM
Warga Kota Palu, baik pengguna sepeda motor, mobil pribadi, maupun truk logistik, memadati jalanan sekitar SPBU dengan antrean yang mengular. Banyak orang rela menunggu berjam-jam di bawah sinar matahari untuk mengisi tangki penuh. Penjelasan mereka beralasan: ketakutan akan gempa susulan yang bisa memicu kekacauan, terutama jika pasokan listrik terganggu, sehingga distribusi BBM ke kota menjadi terhambat. Facing Challenges juga dirasakan oleh pihak berwenang yang berusaha mengatur lalu lintas dan menertibkan antrean untuk mencegah gesekan antar pengendara.
Perbandingan dengan Gempa 2018: Pengalaman Trauma Masyarakat
Kondisi ini mengingatkan masyarakat pada pengalaman trauma gempa tahun 2018, saat Kota Palu mengalami krisis pasokan bahan bakar akibat kerusakan infrastruktur dan evakuasi yang berlangsung panjang. Tahun lalu, sejumlah SPBU ditutup sementara, memicu kekhawatiran serupa. Hamka Rauf, 42, yang mengantre di SPBU Jalan Pue Bongo, Palu Barat, mengungkapkan,
“Saya membeli BBM dengan harapan gempa susulan tidak lebih besar dari yang dulu terjadi. Jika listrik padam, pertama-tama BBM akan habis, dan itu berdampak besar pada mobilitas warga.”
Siti Rahma, 35, dari Palu Bara, menambahkan,
“Ketika gempa 2018 lalu, kita merasa tidak aman. Kini, meski gempa tidak seluruhnya menghentikan kehidupan, kita tetap waspada. Facing Challenges ini adalah bentuk antisipasi kita.”
Pasokan bahan bakar di Palu tetap memadai, menurut Pertamina, yang menyatakan stok BBM tidak terganggu. Namun, kepanikan yang meluas membuat kebutuhan bahan bakar di atas rata-rata biasa. BMKG mencatat hingga sore hari, puluhan gempa susulan masih terjadi, memperparah kecemasan. Pemerintah daerah dan polisi terus berupaya mengurangi antrian, tetapi rasa takut masih menghiasi wajah setiap pengendara.
Kelangkaan bahan bakar juga memengaruhi kegiatan sehari-hari. Pengusaha rental mobil mengeluhkan penurunan permintaan, sementara warung-warung kecil mengalami peningkatan penjualan. Facing Challenges tidak hanya berupa fokus pada bahan bakar, tetapi juga kebutuhan mendasar lain seperti air minum dan makanan. Beberapa warga bahkan membawa botol air dan kantong makanan saat berantre, memastikan diri tetap siap dalam keadaan darurat.
Kepanikan yang terjadi menunjukkan Facing Challenges sebagai bagian dari kehidupan masyarakat daerah rawan bencana. Meski kejadian ini belum menyebabkan kerusakan besar, dampak psikologis terasa jelas. Penelitian terkini menunjukkan bahwa kecemasan akibat gempa susulan meningkatkan risiko keputusan impulsif, seperti membeli bahan bakar berlebihan. Dengan Facing Challenges, masyarakat mencoba meminimalkan risiko ini melalui persiapan yang lebih ekstra.
Meski situasi sedang menenangkan, penjaga SPBU di Kota Palu masih menghadapi tekanan besar. Banyak warga meminta sertifikat BBM atau membeli dalam jumlah besar, meski pihak berwenang sudah memastikan distribusi tetap berjalan. Facing Challenges ini juga dihadapi oleh operator SPBU yang terus memantau permintaan dan kebutuhan pengguna. Pemerintah daerah berharap kepanikan bisa dikendalikan, sambil menunggu apakah gempa susulan akan lebih parah lagi.
