Pertamina Pastikan Pasokan Solar Bersubsidi untuk Nelayan di Cilacap Amankan
Facing Challenges – Dalam menghadapi berbagai tantangan, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah menegaskan bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) subsidi di wilayah Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tetap terjaga. Fokus utama dalam upaya ini adalah memastikan kebutuhan solar subsidi untuk nelayan kecil di Kabupaten Cilacap, khususnya mereka yang mengandalkan kapal dengan daya tampung di bawah 30 gross ton (GT) sebagai alat transportasi utama. Program ini dilakukan untuk mengatasi kesulitan yang sering terjadi akibat kenaikan harga bahan bakar di pasar umum.
Mekanisme Penyaluran BBM Subsidi untuk Nelayan
Nelayan kecil yang memenuhi kriteria daya tampung kapal di bawah 30 GT diberikan hak untuk mendapatkan BBM subsidi melalui sistem yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Status ini dibuktikan dengan surat rekomendasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat, yang diberikan setelah melakukan verifikasi. Sebelumnya, nelayan mengandalkan SPBU khusus atau umum, tetapi kini sistem yang lebih terstruktur diterapkan untuk memudahkan distribusi.
“Nelayan dengan kapal di bawah 30 GT bisa memanfaatkan BBM subsidi dengan mengisi di SPBU Nelayan menggunakan QR Code Subsidi Tepat, atau di SPBU reguler dengan membawa surat rekomendasi resmi dari DKP setempat,”
kata Taufiq Kurniawan, Area Manager Communication, Relation, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, pada Senin (11/5). Ia menambahkan bahwa Pertamina secara aktif memastikan pasokan tetap stabil, terutama saat terjadi gangguan distribusi di daerah lain.
Titik Distribusi Solar Subsidi di Cilacap
Sejumlah SPBU khusus menjadi pusat distribusi solar subsidi bagi nelayan di Cilacap. Di antaranya adalah SPBU Nelayan 48.532.01 Sentolokawat, 48.532.02, dan 48.532.03 di Kelurahan Tegalkamulyan. Selain itu, SPBU 48.532.04 KUD Minu Suroyo juga berperan sebagai titik pengisian utama. Nelayan yang berada di daerah terpencil tetap bisa mendapatkan solar subsidi, asalkan melampirkan surat rekomendasi dari DKP setempat sebagai bukti kelayakan.
“Stok solar subsidi di wilayah Regional Jawa Bagian Tengah mencapai 14,4 kali lipat dari kebutuhan normal harian. Di Cilacap, distribusi BBM subsidi di SPBU terjaga dalam level dua kali lipat dari konsumsi harian, dengan jadwal pengisian yang tetap terpantau,”
ungkap Taufiq dalam siaran persnya. Ia menjelaskan bahwa Pertamina telah menyiapkan cadangan BBM subsidi sebagai antisipasi adanya kenaikan permintaan atau gangguan logistik yang mungkin terjadi.
Pertamina juga terus memperluas cakupan layanan dengan mengoptimalkan jaringan distribusi. Nelayan yang berada jauh dari SPBU khusus tetap bisa memperoleh bahan bakar subsidi melalui titik-titik pengisian umum, dengan syarat membawa surat verifikasi dari DKP setempat. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada nelayan yang kehilangan akses ke energi subsidi, terutama selama menghadapi tantangan ekonomi atau krisis bahan bakar.
Persiapan dan Tanggung Jawab Pertamina
Pertamina menegaskan komitmen untuk menjaga keandalan pasokan BBM subsidi, termasuk solar, sebagai bagian dari upaya meringankan beban nelayan di tengah tantangan yang terus berlanjut. Stok bahan bakar di daerah pesisir dipastikan cukup untuk kebutuhan harian, dengan distribusi yang dilakukan secara rutin dan teratur. Pertamina juga melibatkan mitra lokal, seperti pemangku kepentingan dan pemerintah daerah, dalam pengawasan distribusi agar tidak ada kecurangan atau penyalahgunaan.
Kebijakan ini menjadi salah satu langkah strategis Pertamina dalam menghadapi tantangan perekonomian yang terus mengancam sektor perikanan. Dengan menjaga pasokan solar subsidi, perusahaan berharap mampu mendukung kelancaran aktivitas nelayan, sehingga mereka dapat terus berproduksi dan berkontribusi pada perekonomian lokal. Taufiq Kurniawan menegaskan bahwa Pertamina tidak hanya fokus pada pasokan, tetapi juga pada komunikasi dengan nelayan untuk memahami kebutuhan mereka secara real-time.
Dalam upaya meningkatkan kenyamanan, Pertamina juga memperkenalkan sistem digitalisasi pengisian BBM subsidi. Dengan QR Code Subsidi Tepat, nelayan bisa langsung mendapatkan bahan bakar tanpa harus mengantre atau mengeluarkan biaya tambahan. Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi hambatan dalam akses dan menjaga stabilitas pasokan, terlepas dari perubahan situasi ekonomi atau politik.
