Festival Golo Curu 2026 Diluncurkan sebagai Historic Moment di Flores
Beritabaru1.com – Dalam sebuah Historic Moment yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Flores, Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2026 resmi diluncurkan di Natas Labar, Ruteng, pada Kamis (9/7). Acara ini menjadi titik awal perayaan yang diharapkan menarik perhatian ribuan peziarah, wisatawan, dan masyarakat lokal ke lokasi yang dianggap sebagai pusat kepercayaan Katolik serta simbol spiritualitas khas wilayah ini. Dengan adanya Festival Golo Curu dalam rangkaian Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, acara ini semakin memperkuat posisinya sebagai bagian dari kegiatan nasional yang memadukan iman, budaya, dan pariwisata.
Festival sebagai Representasi Kebersamaan Budaya dan Spiritual
Menurut masyarakat Manggarai, Festival Golo Curu bukan sekadar acara tahunan biasa, tetapi menjadi pilar penting dalam menjaga keutuhan kepercayaan Katolik, tradisi budaya, serta keindahan alam yang melekat pada Flores. Aktivitas ini menandai perkembangan pariwisata berbasis keagamaan dan warisan lokal, yang dianggap sebagai hadiah bersejarah dari masyarakat setempat. Dengan menggabungkan iman, budaya, dan pariwisata, festival ini memperlihatkan bagaimana keharmonisan nilai-nilai spiritual dan kehidupan masyarakat bisa terwujud melalui kesatuan ekosistem budaya yang kuat.
Kombinasi festival ini dengan dua kegiatan serupa di Lembata dan Manggarai Barat, yakni Festival Lamaholot dan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara, menjadi bentuk wujud kebersamaan antar daerah di Nusa Tenggara Timur. Dengan Heritage Event Nusantara (HEN) 2026 sebagai platform, tiga festival ini diharapkan menjadi refleksi dari kekayaan spiritual dan budaya Indonesia yang tak terpisahkan dari alam serta sejarah lokal.
Tema Utama Festival: Kesatuan Iman dan Kehidupan Masyarakat
Festival Golo Curu 2026 diluncurkan sebagai Historic Moment yang menegaskan peran iman Katolik dalam membentuk identitas masyarakat Manggarai. Peluncuran ini diharapkan memperkuat komitmen masyarakat untuk menjaga tradisi, menegaskan nilai-nilai moral, serta mendorong keterlibatan dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Kegiatan utama festival akan dimulai dengan ziarah ke Patung Maria Ratu Rosari ke berbagai paroki di Wilayah Selatan Kevikepan Ruteng, yang dijadwalkan pada 16–30 September 2026.
“Festival ini merupakan Historic Moment penting karena menggabungkan iman, budaya, dan pariwisata dalam satu kesatuan. Kekayaan spiritual dan budaya Golo Curu dianggap sebagai bentuk hadiah dari Tuhan yang harus dijaga dan dipertahankan melalui perayaan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Theodosius Yosefus Nono, Ketua Panitia Festival.
Menurut Yosefus, acara ini juga menjadi ajang untuk memperkuat persaudaraan antarumat dan menghadirkan pesan pastoral yang lebih luas. Dengan aktivitas seperti misa, doa, pertunjukan budaya, serta edukasi lingkungan, festival ini tidak hanya memperkaya pengalaman spiritual, tetapi juga memberikan ruang bagi interaksi sosial yang bermakna. Adanya penekanan pada ekosistem budaya dan alam menegaskan bahwa festival ini lebih dari sekadar acara, tetapi representasi dari kehidupan masyarakat yang harmonis.
Manfaat Ekonomi dan Pariwisata Berkelanjutan
Andhy MT Marpaung, Plt Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), menilai Festival Golo Curu menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata dapat berkembang dari akar budaya. “Kehadiran festival ini diharapkan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar, sekaligus memperkuat citra Flores sebagai destinasi religi Katolik yang unik,” tutur Andhy.
“Melalui kolaborasi antara gereja, pemerintah, komunitas, UMKM, dan warga, festival ini menciptakan pariwisata berkelanjutan yang bisa menginspirasi pengembangan wisata daerah lain. Ini adalah Historic Moment untuk menegaskan bahwa iman, budaya, dan pariwisata bisa berjalan selaras,” tambah Andhy.
Puncak Festival Golo Curu akan berlangsung pada 2–7 Oktober 2026 dengan rangkaian acara yang melibatkan masyarakat luas. Misalnya, acara seperti misa besar, pertunjukan budaya tradisional, serta edukasi lingkungan menggambarkan upaya untuk menyelaraskan kehidupan rohani dengan pembangunan ekonomi dan lingkungan. Dengan adanya kompetisi antar paroki, festival ini juga menjadi ajang penguatan identitas lokal sekaligus penyelarasan antara keagamaan dan kehidupan masyarakat.
Historic Moment ini menjadi bagian dari strategi pembangunan berbasis keagamaan di Flores. Dengan menjadikan kepercayaan Katolik sebagai kekuatan penggerak, festival ini tidak hanya mendorong peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga memperkuat hubungan antara agama, budaya, dan ekonomi. Selain itu, acara ini diharapkan menjadi percontohan bagaimana kegiatan keagamaan bisa menjadi pendorong utama dalam pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
