Konsumsi Hewan Qurban di Kalsel 17 Ribu Ekor
Historic Moment – Pada perayaan Idul Adha tahun 1447 H, jumlah hewan qurban yang dikonsumsi masyarakat Kalimantan Selatan mencapai 17.000 ekor, mencakup sapi dan kambing. Angka ini menjadi penanda penting dalam sejarah kegiatan qurban di daerah tersebut, menunjukkan tingkat keberlanjutan dan keberhasilan program pengadaan hewan qurban. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kalsel, Suparmi, menyebutkan bahwa meski estimasi konsumsi sekitar 17 ribu ekor, pihaknya telah menyiapkan 23 ribu ekor dengan dominasi sapi sebagai antisipasi kebutuhan yang lebih besar. Dengan persiapan yang cukup, diharapkan masyarakat dapat merasakan manfaat dari program ini secara optimal.
Upaya Persiapan dan Pemeriksaan Kesehatan
Sejak bulan Mei 2026, Disbunak Kalsel telah melakukan pengawasan intensif terhadap kualitas hewan qurban. Tim pemeriksa kesehatan diterjunkan ke 13 kabupaten/kota untuk memastikan hewan yang digunakan dalam kondisi prima dan aman dikonsumsi. Program ini dilakukan bersamaan dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Kalsel, serta dukungan dari UPT Kementerian Pertanian dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Tujuannya adalah untuk menjaga standar kesehatan hewan qurban dan menghindari risiko kontaminasi.
“Kita memperkirakan konsumsi hewan qurban tahun ini sekitar 17 ribu ekor, tetapi kita siapkan 23 ribu ekor dengan dominasi sapi sebagai jaga-jaga,” kata Suparmi. Pemeriksaan rutin dilakukan guna memastikan hewan qurban memenuhi kriteria kebersihan, kesehatan, dan kesesuaian dengan standar agama. Kebijakan ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan pengalaman Historic Moment yang lebih baik bagi masyarakat.
Penyerahan dan Distribusi Hewan Qurban
Pada hari Rabu (27/5), setelah melaksanakan sholat Idul Adha, Gubernur Kalsel Muhidin dan Wakil Gubernurnya Hasnuryadi Sulaiman secara simbolis menyerahkan bantuan sapi qurban kepada berbagai daerah. Termasuk 15 ekor sapi Limousin dan Simmental Cross yang diberikan langsung oleh Presiden RI sebagai bentuk dukungan kepada provinsi dan kabupaten/kota di Kalsel. Sapi-sapi ini memiliki berat antara 800 kg hingga di atas satu ton dan berasal dari sejumlah peternakan terpilih di wilayah tersebut.
Suparmi menjelaskan bahwa hewan qurban yang ditetapkan mencakup 90% sapi dan 10% kambing, dengan distribusi yang diperhitungkan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Kabupaten Barito Kuala menjadi salah satu daerah yang menerima bantuan khusus, salah satunya dialokasikan untuk komunitas masyarakat Bali yang tinggal di sana. Distribusi yang terencana memastikan setiap kelompok masyarakat dapat memperoleh manfaat dari program Historic Moment ini, termasuk pengadaan hewan yang terjangkau dan berkualitas.
Transparansi dan Kolaborasi Daerah
Transparansi dalam pengadaan hewan qurban menjadi salah satu poin penting dalam Historic Moment tahun ini. Disbunak Kalsel mengupayakan sistem pemeriksaan yang terbuka, termasuk pelibatan masyarakat dan organisasi lokal dalam mengawasi proses. Di samping itu, kerja sama dengan PDHI dan pihak terkait lainnya memastikan bahwa setiap hewan qurban memenuhi kriteria kesehatan dan kualitas. Suparmi menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya tergantung pada persiapan pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat dalam memastikan keberlanjutan.
Kerja sama antar instansi juga terlihat dalam upaya mendistribusikan hewan qurban ke seluruh wilayah. Dinas Perkebunan dan Peternakan menyebutkan bahwa sebagian hewan qurban berasal dari luar Kalsel, khususnya Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi. Namun, upaya pengadaan lokal tetap didorong untuk memperkuat ekonomi pertanian. Dengan angka konsumsi yang signifikan, diharapkan program ini dapat menjadi Historic Moment baru dalam meningkatkan aksesibilitas dan kualitas hewan qurban bagi masyarakat.
Pengaruh Ekonomi dan Sosial
Konsumsi hewan qurban sebanyak 17 ribu ekor memiliki dampak besar terhadap perekonomian lokal. Program ini menciptakan kebutuhan akan bahan baku ternak dan mendorong pertumbuhan industri peternakan di Kalsel. Selain itu, distribusi hewan qurban menjadi sarana memperkuat kebersamaan antar komunitas, termasuk kelompok etnis atau agama yang berbeda. Pada Historic Moment Idul Adha ini, masyarakat Kalsel diharapkan dapat merasakan manfaat dari kebijakan yang menekankan keadilan dan kesejahteraan.
Suparmi menyoroti bahwa keberhasilan program qurban tidak hanya terlihat dari jumlah hewan yang tersedia, tetapi juga dari respons masyarakat yang positif. Dengan adanya bantuan dari Presiden dan kolaborasi yang solid, masyarakat Kalsel dapat merayakan Idul Adha dengan lebih baik. Angka 17 ribu ekor menjadi bukti bahwa tahun ini menjadi Historic Moment yang menggambarkan peningkatan kualitas dan cakupan program qurban. Harapan besar diusahakan agar kegiatan ini terus berkembang dan memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.
Kelanjutan Program dan Harapan Masa Depan
Program qurban di Kalsel tidak hanya menjadi Historic Moment tahun ini, tetapi juga sebagai langkah awal untuk program jangka panjang. Pihak Disbunak menargetkan peningkatan volume pengadaan hewan qurban setiap tahunnya, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan permintaan masyarakat. Di samping itu, program ini dirancang untuk menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kesehatan hewan dan kebersihan lingkungan sebelum serta sesudah penyembelihan.
Dengan perayaan Idul Adha yang sukses, Gubernur Kalsel Muhidin menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan sapi qurban dari Presiden RI. Ia menilai bahwa tahun ini merupakan Historic Moment yang mewakili komitmen nasional dan lokal dalam mendorong kesejahteraan masyarakat. Semangat gotong royong dan kerja sama yang terjalin akan menjadi fondasi kuat untuk memastikan keberlanjutan program qurban di masa depan.
