IOM Gelar Pelatihan Hak dan Perlindungan Pengungsi di Batam
Key Discussion – Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) kembali memperkuat upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hak dan perlindungan pengungsi, dengan mengadakan pelatihan di Kota Batam beberapa hari lalu. Acara yang diadakan di Kecamatan Lubuk Baja ini dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, termasuk instansi pemerintah daerah, aparat penegak hukum, organisasi kemasyarakatan, serta perwakilan dari Rumah Detensi Imigrasi dan jajaran kecamatan serta kelurahan di wilayah tersebut. Key Discussion kali ini bertujuan untuk memperjelas peran masing-masing pihak dalam memastikan pengungsi mendapatkan perlindungan yang layak dan sesuai dengan prinsip hak asasi manusia.
Agenda dan Fokus Pelatihan
Pelatihan ini dirancang secara komprehensif, dengan agenda utama berfokus pada empat aspek utama: pengenalan hak pengungsi, penerapan kerangka hukum internasional, perlindungan kelompok rentan, dan strategi pencegahan eksploitasi. Materi diawali dengan sesi interaktif yang diberi nama “Berada di Posisi Pengungsi,” di mana peserta diberi kesempatan untuk mengalami langsung situasi pengungsi melalui skenario yang dirancang oleh fasilitator. Key Discussion dalam sesi ini tidak hanya memperkaya pemahaman peserta, tetapi juga memicu refleksi mendalam mengenai tantangan yang dihadapi oleh pengungsi dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Setelah sesi praktis, peserta mendengarkan paparan mengenai kerangka perlindungan pengungsi yang mencakup Perjanjian Geneva, Konvensi Hak Anak, serta aturan lokal yang diterapkan di Kota Batam. Key Discussion pada bagian ini mengupas bagaimana kebijakan nasional dan internasional dapat diintegrasikan dalam tindakan nyata di tingkat daerah. Dalam sesi diskusi kelompok, peserta juga berbagi pengalaman serta mengeksplorasi solusi strategis untuk memastikan pengungsi memiliki akses yang adil terhadap layanan, pelindungan, dan partisipasi dalam masyarakat.
Partisipasi Pemangku Kepentingan
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Batam, Riama Manurung, yang memberikan sambutan pembuka. Selain itu, hadir Fasilitator IOM Pusat, Ali Ramli Aulia, serta perwakilan IOM Batam seperti Khairul dan Chris Simamora. Key Discussion dalam sambutan tersebut menekankan pentingnya kemitraan antarlembaga untuk mendorong pendekatan holistik dalam penanganan pengungsi. Peserta lain meliputi perwakilan dari Dinas Tenaga Kerja, Dinas Kependudukan, Rumah Detensi Imigrasi, Yayasan Embung Pelangi, serta Satpol PP, yang semuanya berkomitmen untuk memperluas kapasitas pelayanan terhadap pengungsi.
Pihak kepolisian, seperti Kanit IK Polsek Sekupang, Ipda Pebriadi, dan Kanit Binmas Polsek Lubuk Baja, Iptu Indra, serta intelkam dari Polresta Barelang, turut aktif dalam diskusi. Key Discussion tentang tanggung jawab kepolisian dalam mengawal hak pengungsi menjadi pusat perhatian, terutama dalam menghadapi kasus eksploitasi dan pelecehan. Dengan partisipasi aktif dari berbagai lembaga, pelatihan ini diharapkan mampu menjadi referensi praktis dalam mendorong sistem perlindungan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Isu Kritis yang Dibahas
Salah satu Key Discussion yang menarik adalah tentang penanganan kekerasan berbasis gender terhadap pengungsi perempuan. Materi ini diisi oleh perwakilan DP3AP2KB, yang menjelaskan bagaimana kebijakan anti-kekerasan dapat diterapkan dalam konteks pengungsi. Selain itu, topik kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas juga mendapat penekanan, karena mereka sering kali menjadi korban diskriminasi atau kurangnya akses ke layanan dasar.
Terkait Key Discussion tentang PSEA (Protection from Sexual Exploitation and Abuse), pelatihan menyajikan contoh kasus nyata yang terjadi di Batam. Peserta diberikan panduan untuk mengidentifikasi indikator pelecehan, mengambil tindakan cepat, serta melibatkan masyarakat dalam pencegahan. Dengan memperkuat kesadaran tentang isu ini, kegiatan diharapkan mampu meningkatkan kualitas perlindungan pengungsi, terutama dalam ruang publik dan institusi seperti rumah detensi.
Hasil dan Harapan Masa Depan
“Melalui Key Discussion ini, kita bisa memperjelas komitmen bersama dalam menghadirkan pengungsi sebagai bagian dari masyarakat Batam yang inklusif,” ujar Kapolsek Lubuk Baja, Kompol Deni Langie, Minggu (14/6). Ia menambahkan bahwa pelatihan ini adalah langkah awal dalam membangun kapasitas lokal untuk merespons berbagai tantangan pengungsi secara proaktif.
Pelatihan menutup dengan pembentukan tim kerja lintas sektor, yang bertugas merancang rencana aksi berkelanjutan. Key Discussion mengenai kolaborasi daerah dan lembaga nirlaba menjadi sorotan, karena pengungsi sering kali memerlukan dukungan dari berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan menggabungkan pengetahuan hukum, pemahaman sosial, dan tindakan praktis, kegiatan ini diharapkan menjadi model terbaik dalam memberikan perlindungan yang efektif dan berkelanjutan di wilayah kepulauan.
Dalam rangka Key Discussion tentang peran pengungsi dalam pembangunan daerah, pelatihan juga menyajikan studi kasus mengenai bagaimana pengungsi dapat berkontribusi dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Peserta diajak untuk merefleksikan peluang dan tantangan dalam menyatukan kepentingan antara pengungsi dan masyarakat setempat. Dengan demikian, pelatihan ini bukan hanya sekadar penyuluhan, tetapi juga menjadi wadah dialog untuk menyusun strategi inklusif dalam membangun Batam sebagai kota yang lebih ramah bagi pengungsi.
