Key Strategy: Gubernur Bobby Nasution: Masyarakat Sumut Merugi karena Pemadaman Bergilir
Key Strategy – Dalam kunjungan ke Kantor PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pengatur Beban Sumatra Bagian Utara di Medan, Senin (8/6), Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution mengingatkan manajemen PLN untuk mengevaluasi kembali Key Strategy dalam mengatasi pemadaman listrik bergilir yang terjadi di wilayah Sumut. Ia menyoroti bahwa upaya ini tidak hanya memengaruhi aktivitas sehari-hari masyarakat tetapi juga menimbulkan kerugian signifikan, terutama bagi pengusaha kecil yang bergantung pada pasokan listrik yang stabil.
Penyebab Pemadaman dan Dampak Ekonomi
Pemadaman bergilir yang terjadi sejak beberapa pekan lalu diklaim Bobby Nasution telah menciptakan ketidaknyamanan yang berkelanjutan bagi masyarakat. Menurutnya, jadwal pemadaman yang tidak diumumkan secara jelas membuat pengusaha dan warga kewalahan dalam mengatur operasional bisnis. “Key Strategy PLN harus mencakup komunikasi proaktif kepada masyarakat agar tidak ada kekacauan di sektor ekonomi,” tegas Bobby. Pemadaman ini, menurutnya, sering terjadi tanpa pemberitahuan, sehingga mengganggu kegiatan produktif dan merugikan banyak pihak.
Kerusakan infrastruktur menjadi salah satu penyebab utama dari pemadaman bergilir. Bobby Nasution menyebut bahwa cuaca ekstrem seperti hujan deras dan angin kencang yang terjadi beberapa waktu lalu telah menghancurkan belasan menara transmisi. “Ini adalah kesalahan yang tidak boleh terulang, karena Key Strategy PLN seharusnya sudah memprediksi situasi seperti ini,” jelasnya. Ia berharap PLN mampu meningkatkan kesiapan infrastruktur dan mengimplementasikan strategi pengelolaan listrik yang lebih responsif.
“Key Strategy ini bukan hanya tentang teknis penyuplai listrik, tetapi juga tentang keterbukaan dan kecepatan respons terhadap masalah yang muncul. Masyarakat sudah mengeluh. Mereka merugi akibat pemadaman bergilir ini, terutama pengusaha kecil yang mengandalkan listrik,” ujar Bobby Nasution dengan tegas.
Perspektif PLN dan Harapan Kompensasi
Kepala Unit Induk Distribusi PLN Sumut, Mundakhir Salman, mengakui bahwa pemadaman listrik di Sumut memang disebabkan oleh kerusakan 12 menara Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang mengganggu distribusi energi. Ia menjelaskan bahwa saat ini PLN sedang berupaya memperbaiki kerusakan tersebut, tetapi prosesnya membutuhkan waktu hingga dua sampai tiga hari. “Kita tunggu proses perbaikannya agar pasokan listrik kembali normal,” tambah Mundakhir.
Bobby Nasution menegaskan bahwa Key Strategy PLN harus mencakup kompensasi yang jelas bagi pelanggan yang terdampak. Ia mengkritik ketegasan PLN terhadap pelanggan, seperti sanksi pemutusan listrik atau pencopotan meteran atas pembayaran yang terlambat, sementara layanan yang diberikan belum sepenuhnya memenuhi standar. “Ini menjadi tantangan bagi masyarakat yang sudah berjuang keras,” katanya. PLN sendiri mengusulkan diskon tagihan atau keringanan pembayaran token sebagai bentuk kompensasi, tetapi keputusan akhir masih menunggu dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kemungkinan Solusi Jangka Panjang
Dalam upaya menyelesaikan masalah pemadaman bergilir, Bobby Nasution meminta PLN untuk mempercepat pengerjaan Key Strategy yang lebih sistematis. Ia menyarankan penggunaan teknologi pengawasan dan monitoring yang lebih modern agar kerusakan infrastruktur dapat dideteksi lebih dini. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kerja sama dengan pemerintah daerah dalam merancang solusi bersama.
PLN mengakui bahwa komunikasi yang kurang efektif menjadi salah satu faktor utama yang menyulitkan masyarakat. Mundakhir Salman mengungkapkan bahwa informasi tentang pemadaman listrik seringkali diberikan secara terbatas, sehingga warga terkadang tidak tahu persis kapan dan di mana listrik akan diputus. Bobby Nasution berharap PLN bisa memperbaiki sistem ini agar masyarakat lebih siap dan tidak terganggu.
Menurut analisis, pemadaman listrik bergilir berdampak signifikan terhadap sektor usaha mikro dan kecil di Sumut. Rata-rata kerugian yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah per bulan, dengan kerusakan perangkat elektronik dan penurunan produktivitas menjadi salah satu konsekuensi utamanya. Bobby Nasution menegaskan bahwa Key Strategy PLN harus mencakup perhitungan kerugian yang lebih akurat dan kebijakan kompensasi yang adil bagi masyarakat.
