Lima Siswa SMP di Makassar Terpapar Radikalisme lewat Gim Daring
Lima Siswa SMP di Makassar Terpapar – Kota Makassar, Sulawesi Selatan, kembali menjadi sorotan setelah lima siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sana terbukti terpapar ide-ide radikal melalui permainan daring. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana pengaruh digital bisa mencapai kalangan remaja yang sebelumnya dianggap cukup jauh dari risiko terorisme. Lima siswa ini tergabung dalam jaringan yang menyebarkan pemahaman ekstrem, yang terungkap setelah investigasi oleh tim khusus dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar dan Densus 88. Kini, mereka menjadi contoh nyata tentang bagaimana teknologi bisa menjadi pintu masuk radikalisme.
Proses Terpapar Radikalisme
Kelima siswa tersebut, yang berusia sekitar 14 tahun, memasuki jaringan radikal melalui tautan yang tersemat dalam konten permainan daring. Awalnya, mereka terkesan oleh tema-tema politik dan agama yang dianggap menarik, sehingga terdorong untuk mengikuti grup diskusi yang dianggap “alami” dan tidak mencurigakan. Tidak hanya melalui gim, para siswa juga terpapar melalui media sosial, seperti YouTube dan Facebook, yang menjadi alat propaganda untuk membangun pemahaman radikal secara bertahap.
Dalam satu permainan daring, siswa-siswa ini dilibatkan dalam simulasi politik yang dihiasi narasi nasionalis ekstrem. Permainan tersebut dirancang dengan tampilan menarik dan sesi interaktif yang mendorong partisipasi aktif. Selain itu, mereka juga terlibat dalam diskusi online yang berlangsung di grup WA, di mana materi radikal disampaikan dalam bentuk cerita, video, atau gambar yang terkesan mendalam. Proses ini tidak terdeteksi secara cepat karena para remaja tidak menyadari bahwa mereka sedang diarahkan ke arah pemikiran radikal.
Koordinasi Tim Pemantauan
Koordinasi antara DP3A dan Densus 88 menemukan bahwa anak-anak ini terpapar radikalisme hampir setahun sebelumnya. Kebiasaan mereka bermain gim daring dan terlibat dalam grup WA menjadi titik temu antara kemampuan teknologi dan ide-ide yang menyimpang. Tim khusus mengungkap bahwa siswa-siswa ini tidak hanya terpengaruh oleh konten, tetapi juga berperan aktif dalam menyebarkan pemahaman radikal ke teman-teman sebaya. Awalnya, mereka tidak menyadari bahwa aktivitas digital mereka bisa menjadi sarana penyebaran ide-ide ekstrem.
Ita Isdiana Anwar, Kepala DP3A Kota Makassar, menambahkan bahwa keluarga mereka pun tidak mengira anak-anaknya terlibat dalam jaringan radikal. “Saya pernah melihat seorang siswa SMP yang sering bermain gim daring dan tidak pernah curiga bahwa ia sedang berada dalam jaringan terorisme,” ujar Ita, Jumat (15/5). Dengan situasi ini, orangtua diingatkan untuk lebih awas dalam mengawasi waktu anak-anak di dunia maya, terutama saat bermain game atau mengakses konten yang bisa memicu perubahan pola pikir.
Sebagai respons, DP3A dan Densus 88 memberikan intervensi dengan berbagai metode. Salah satu upaya yang dilakukan adalah konseling pemulihan dan pelatihan berpikir kritis bagi lima siswa tersebut. Mereka juga diberi penjelasan tentang bagaimana radikalisme bisa menyebar melalui platform digital. Selain itu, tim memastikan bahwa orangtua juga diberi pemahaman untuk ikut serta dalam pendidikan radikalisme. “Lima Siswa SMP di Makassar ini harus diberi pemahaman bahwa permainan daring bisa menjadi pintu masuk radikalisme jika tidak diawasi,” tambah Ita.
Dalam beberapa minggu terakhir, lima siswa tersebut telah memperlihatkan perubahan sikap. Mereka mulai memahami bahwa konten yang mereka ikuti tidak sepenuhnya netral dan mulai menghindari grup WA yang berisi materi radikal. Tim pendidikan juga membantu mereka mengembangkan keterampilan analisis konten, sehingga mampu membedakan antara informasi yang bermanfaat dan yang bisa memengaruhi pemikiran. Meski demikian, proses pemulihan membutuhkan waktu dan keberlanjutan dari dukungan keluarga serta lingkungan sekitar.
Sebagai upaya pencegahan, DP3A Kota Makassar tengah mengadakan edukasi ke berbagai kecamatan dan sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kesadaran orangtua dan guru tentang bahaya radikalisme di dunia maya. “Lima Siswa SMP di Makassar ini adalah contoh bagus bahwa radikalisme bisa menyebar ke kalangan muda,” pesan Ita. Dengan kesadaran yang lebih tinggi, diharapkan keluarga bisa berperan aktif dalam melindungi anak-anaknya dari pengaruh negatif digital. Edukasi ini juga mencakup pembahasan tentang cara memilih konten yang aman dan bagaimana memantau aktivitas anak dalam permainan daring.
