ITB Perkuat Penanganan Krisis Komunikasi dengan Teknologi
Perkembangan Digital Mengubah Dinamika Komunikasi Institusi
Main Agenda – Salah satu Main Agenda yang menjadi fokus utama dalam Rapat Koordinasi Humas dan Protokol Diktisaintek 2026 adalah pemanfaatan teknologi untuk memperkuat kemampuan lembaga pendidikan tinggi dalam mengelola krisis komunikasi. Kegiatan ini diadakan di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu (3/6), dihadiri sekitar 350 peserta dari berbagai daerah. Dalam era informasi yang cepat bergerak, kemampuan memantau dan merespons isu secara efektif menjadi lebih kritis. Main Agenda ini bertujuan menjawab tantangan yang dihadapi perguruan tinggi dalam membangun reputasi yang stabil.
Strategi Teknologi dalam Menghadapi Krisis
Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. N. Nurlaela Arief, menjelaskan bahwa teknologi digital menjadi bagian tak terpisahkan dalam strategi penanganan krisis. Main Agenda ini meliputi penggunaan data analitik untuk memahami persepsi publik, serta alat pemantauan media sosial yang mampu mendeteksi isu secara real-time. “Dengan teknologi, kita bisa menciptakan respons yang lebih cepat dan akurat,” tambah Nurlaela, yang menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam setiap langkah komunikasi.
“Perguruan tinggi tidak lagi cukup bergantung pada respons reaktif. Main Agenda ini mendorong transformasi sistem komunikasi agar lebih proaktif dan terstruktur,” ujar Nurlaela.
Pemimpin diskusi juga menyoroti bahwa teknologi tidak hanya mempercepat respons, tetapi juga meningkatkan transparansi informasi. Main Agenda ini memberikan panduan untuk mengintegrasikan inovasi dalam pengelolaan krisis, sekaligus memperkuat kapasitas SDM dalam menghadapi situasi mendesak. Dengan alat seperti chatbot, analitik media sosial, dan platform pengelolaan reputasi, institusi bisa meminimalkan dampak negatif dari isu yang muncul.
Collaborative Efforts dalam Implementasi Teknologi
ITB mengusung pendekatan kolaboratif dalam membangun sistem komunikasi yang resilien. Main Agenda ini melibatkan seluruh elemen kampus, mulai dari fakultas, sekolah, hingga unit kerja terkait, untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. “Kolaborasi lintas divisi menjadi kunci keberhasilan strategi ini,” katanya, menambahkan bahwa setiap departemen harus memahami peran dan tanggung jawabnya dalam mengelola informasi.
“Main Agenda ini mengajak semua pihak untuk beradaptasi dengan dinamika digital. Integrasi teknologi dalam komunikasi adalah langkah awal untuk membangun keterpercayaan publik,” tambah Nurlaela.
Strategi tersebut juga mencakup pelatihan dan sertifikasi bagi SDM, sehingga mereka mampu mengoperasikan alat teknologi secara efektif. Nurlaela menekankan bahwa transparansi dan kecepatan dalam merespons isu menjadi aspek utama yang perlu dipertahankan, terutama dalam konteks digital yang terus berkembang.
Peran Narasumber dalam Forum Komunikasi
Forum yang dihadiri oleh Direktur Humas UI, Erwin Agustian Panigoro, serta Direktur Kerja Sama IPB, Alfian Helmi, juga diisi oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan, dan Direktur Hilirisasi Kemendiktisaintek Yos Sunitiyoso. Mereka membahas bagaimana Main Agenda ini bisa diadopsi oleh perguruan tinggi lain di Indonesia, serta peran pemerintah dalam memfasilitasi penggunaan teknologi pendidikan.
“Main Agenda ini adalah langkah yang konsisten dalam menghadapi tantangan era digital. Kita perlu membangun infrastruktur dan kebijakan yang mendukung penggunaan teknologi di semua aspek komunikasi,” kata Yos Sunitiyoso.
Para pembicara juga menyebutkan bahwa perlu adanya standar nasional untuk mengukur kinerja komunikasi krisis di perguruan tinggi. Main Agenda ini diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan sistem yang lebih komprehensif, sekaligus mendorong sinergi antara lembaga pendidikan dan pihak eksternal dalam mengelola isu.
Langkah Konkret dalam Menerapkan Teknologi
Sebagai contoh, ITB telah menerapkan platform digital berbasis AI untuk menganalisis percakapan publik dan mendeteksi sentimen negatif secara dini. Main Agenda ini mencakup penggunaan teknologi untuk memperkuat komunikasi internal, sekaligus menjaga konsistensi pesan yang disampaikan ke luar. Selain itu, mereka juga mengembangkan sistem komunikasi mobile yang memungkinkan respons cepat dari tim humas di lapangan.
“Main Agenda ini bukan sekadar inisiatif teknis, tetapi juga transformasi budaya organisasi. Teknologi adalah alat, tetapi kebijakan dan komitmen yang tepat adalah kunci implementasinya,” ungkap Nurlaela.
Ada pula kegiatan pengujian sertifikasi teknologi komunikasi di tingkat kampus, sebagai bagian dari Main Agenda untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM. Berbagai workshop dan pelatihan telah diadakan, menekankan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perubahan perilaku publik di era digital.
Manfaat Teknologi dalam Memperkuat Citra Institusi
Main Agenda yang diusung ITB berdampak langsung pada peningkatan efisiensi dalam mengelola krisis komunikasi. Dengan teknologi, perguruan tinggi bisa menyampaikan informasi secara lebih akurat dan cepat, terutama dalam menghadapi isu yang berpotensi mengguncang reputasi. Nurlaela menambahkan bahwa keberhasilan ini diukur dari keterlibatan masyarakat dan kepuasan pemangku kepentingan.
“Main Agenda ini memberi kesempatan bagi perguruan tinggi untuk menjadi lebih responsif dan transparan. Teknologi menjadi jembatan antara institusi dan masyarakat,” kata Nurlaela.
