Memperingati 20 Tahun Lumpur Lapindo: Warga Korban Gelar Ritual Sambang Buyut di Atas Tanggul
Memperingati 20 Tahun Lumpur Lapindo – Memperingati 20 tahun peristiwa Lumpur Lapindo, warga korban yang terdampak bencana ini mengadakan ritual adat “Sambang Buyut” di atas tanggul penahan lumpur di Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Acara yang dihadiri oleh ratusan peserta ini dilaksanakan pada Jumat (29/5) dan diharapkan menjadi simbol kebersamaan serta pengingatan akan dampak serius dari semburan lumpur panas yang mengguncang wilayah Jawa Timur sejak 20 tahun lalu. Dengan berjalan kaki dari Taman Dwarakerta ke puncak tanggul, mereka memperkuat hubungan antar korban yang kini tersebar di berbagai daerah relokasi.
Tradisi Sambang Buyut sebagai Penyambung Budaya
Ritual “Sambang Buyut” kali ini menjadi kesempatan unik bagi warga untuk merangkul tradisi Jawa yang sebelumnya terhenti akibat pemukiman terancam lumpur. Para peserta mengusung sesajian tradisional, termasuk tumpeng dan kurma, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan babat alas, tokoh yang dianggap sebagai penjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Harwati, salah satu peserta, menjelaskan bahwa aktivitas ini juga bertujuan melestarikan identitas budaya warga Siring, meski banyak dari mereka kini tinggal di luar wilayah asal.
“Selama 20 tahun ini kita biasanya menggunakan tradisi istigasah secara agamis. Sekarang kita mencoba dengan model Jawa, karena kita tidak luput dari identitas sebagai orang Jawa,” ujar Harwati, salah satu warga korban.
Dalam perjalanan menyusuri tanggul, peserta ritual turut membagikan kisah perjuangan sehari-hari di tengah kondisi wilayah yang tetap rawan pergeseran tanah. Mereka juga menyuarakan harapan agar pemerintah dan pihak terkait dapat menggelar acara serupa setiap tahun sebagai bentuk penghargaan terhadap korban dan upaya pemulihan yang masih berlangsung. Dengan memperingati 20 tahun Lumpur Lapindo, masyarakat ingin mengingatkan bahwa dampak dari bencana alam tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi kehidupan spiritual dan sosial.
Mandeknya Proses Pemulihan Hak Dasar
Dalam memperingati 20 tahun Lumpur Lapindo, warga korban juga menyampaikan tantangan yang masih menghambat pemulihan hak-hak dasar mereka. Selain kehilangan rumah dan lahan pertanian, banyak korban mengalami kesulitan dalam mengakses hak pilih karena ketidakjelasan status administrasi wilayah. Faktor ini menyebabkan hambatan dalam beberapa kontestasi pemilihan umum, yang terus menjadi sorotan masyarakat dan aktivis.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur turut hadir dalam kegiatan ini sebagai peneguh komitmen mengawal hak korban. Mereka menekankan bahwa meskipun kondisi fisik sudah lebih stabil, masalah hak atas tanah dan keadilan masih jadi prioritas. “Kita perlu memperingati 20 tahun Lumpur Lapindo bukan hanya untuk membangun nostalgia, tetapi juga untuk mendorong proses pemulihan yang sejati,” tambah salah satu perwakilan Walhi.
Ritual “Sambang Buyut” juga menjadi ajang dialog antar agama, yang menunjukkan keharmonisan antara korban dari berbagai latar belakang. Peserta membagikan doa dan refleksi bersama, mencerminkan keinginan untuk meneguhkan persatuan di tengah perbedaan keyakinan. Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari perubahan yang lebih besar, baik dalam pemulihan ekonomi maupun kesejahteraan masyarakat yang terdampak bencana alam tersebut.
Dalam rangka memperingati 20 tahun Lumpur Lapindo, warga korban juga merancang rencana jangka panjang untuk memperkuat keberlanjutan tradisi mereka. Salah satu ide yang muncul adalah penggunaan teknologi modern dalam pemantauan pergerakan tanah, agar warga bisa lebih awas menghadapi risiko di masa depan. Selain itu, mereka ingin menyelenggarakan festival budaya tahunan yang menampilkan seni dan kearifan lokal, sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan kehidupan setelah bencana.
Keberlanjutan ritual ini sangat penting untuk menjaga keakraban antar korban, yang kini tersebar di berbagai titik. Sejumlah warga menyatakan bahwa memperingati 20 tahun Lumpur Lapindo adalah cara untuk memperkuat kembali ikatan sosial dan identitas budaya mereka. Dengan komitmen ini, mereka berharap ke depan bisa membangun masyarakat yang lebih kuat, baik secara ekonomi maupun spiritual, meski masih berjuang melawan dampak yang telah berlangsung selama dua dekade.
