New Policy: AI-Based TB Screening for People with Disabilities in Klaten
New Policy – Klaten, Jawa Tengah, menjadi salah satu daerah yang menerapkan new policy dalam upaya mengatasi tuberkulosis (TBC) dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Inisiatif ini menghadirkan pendekatan inovatif untuk mengakses layanan kesehatan, khususnya bagi kelompok penyandang disabilitas yang sering menghadapi hambatan dalam proses diagnosa penyakit.
Inisiatif Kolaboratif untuk Peningkatan Deteksi Dini
Peluncuran new policy ini didukung oleh berbagai lembaga pendidikan dan organisasi lokal, termasuk Universitas Gajah Mada (UGM) dan Pusat Rehabilitasi Yakkum. Proyek pengembangan TBScreen.AI bertujuan mempermudah skrining TBC melalui X-ray dada, memungkinkan pengguna mengunggah hasil rontgen secara online. Dengan alat ini, masyarakat penyandang disabilitas dapat mendapatkan diagnosis lebih cepat, tanpa harus menghadapi rintangan fisik atau logistik dalam mengakses fasilitas kesehatan tradisional.
“TBScreen.AI hadir untuk mengatasi masalah akses layanan kesehatan yang terbatas, terutama bagi penyandang disabilitas. Teknologi ini menjadi bagian dari new policy nasional dalam meningkatkan kesadaran dan deteksi dini TBC,” ujar Antonia Morita Iswari Saktiawati, dosen dari Fakultas Kedokteran UGM.
Kemitraan antara UGM, Universitas of Melbourne, dan lembaga seperti Sentra Advokasi Perempuan, Disabilitas, dan Anak (SAPDA) menghasilkan sistem yang dirancang lebih inklusif. TBScreen.AI tidak hanya berbasis AI, tetapi juga mengintegrasikan faktor demografi dan kondisi fisik masyarakat, sehingga lebih efektif dalam menjangkau kelompok rentan. Dukungan dari Koneksi sebagai bagian dari kolaborasi Indonesia-Australia memperkuat upaya ini sebagai solusi terpadu.
Partisipasi Masyarakat dalam Pemetaan Hambatan
Kegiatan sosialisasi new policy ini juga menjadi platform untuk mengumpulkan data tentang hambatan akses layanan kesehatan. Sebanyak 50 penyandang disabilitas, termasuk mereka dengan kondisi skoliosis, cedera tulang belakang, dan cerebral palsy, turut serta dalam skrining. Proses ini tidak hanya membantu deteksi TBC, tetapi juga memperkuat peran masyarakat dalam memperbaiki sistem kesehatan yang ada.
“Dengan new policy ini, kami berharap masyarakat penyandang disabilitas tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pengambil bagian dalam pengembangan program kesehatan,” kata Qoriek Asamarawati, ketua PPKD.
Pendekatan new policy juga berfokus pada edukasi dan perubahan persepsi terhadap TBC. Ari Natalia Probandari, guru besar dari Universitas Sebelas Maret, menekankan pentingnya pemahaman tentang gejala penyakit dan stigma yang sering menghalangi masyarakat untuk mencari bantuan. “Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran akan TBC, tetapi juga mendorong identifikasi dini dan partisipasi aktif komunitas disabilitas,” tambahnya.
TBScreen.AI berpotensi menjadi model keberhasilan dalam new policy kesehatan berbasis teknologi. Teknologi ini menyasar daerah yang kurang memiliki tenaga radiolog, sehingga mempercepat interpretasi X-ray dan mengurangi risiko kesalahan diagnosis. Dengan new policy ini, pemerintah dan lembaga-lembaga terkait berharap mampu meningkatkan cakupan skrining TBC secara signifikan, terutama di kalangan penyandang disabilitas.
