Pemancing Hanyut di Sungai Batang Toru Ditemukan Meninggal Setelah 5 Hari Pencarian
Pemancing Hanyut di Sungai Batang Toru – Korban hanyut, Abdul Batoran Sihombing (53), yang merupakan seorang pemancing, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal di Sungai Batang Toru, Desa Hutapea, Kecamatan Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, setelah berlangsung lima hari pencarian intensif. Tim SAR Gabungan berhasil menemukan jasad korban sekitar pukul 13.28 WIB, di sekitar 1,8 kilometer dari titik kejadian awal. Pencarian ini dilakukan setelah korban hilang sejak Minggu (24/5) lalu.
Latar Belakang Insiden
Pemancing hanyut di Sungai Batang Toru terjadi saat Abdul sedang melakukan aktivitas memancing bersama temannya di tepi sungai. Menurut keterangan, korban diduga tergelincir dan terseret arus sungai yang deras. Rekan korban langsung melaporkan kejadian tersebut kepada keluarga, kemudian diteruskan ke Pos SAR Danau Toba. Informasi awal menyebutkan bahwa korban hanyut sejak sore hari, sekitar pukul 14.00 WIB, dan segera memicu respons darurat dari pihak berwenang.
Peran Tim SAR dan Teknologi
Operasi pencarian yang berlangsung selama lima hari melibatkan koordinasi antara berbagai elemen, seperti Pos SAR Danau Toba, Polsek Tarutung, BPBD Tapanuli Utara, Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Tapanuli Utara, perangkat desa, warga sekitar, dan keluarga korban. Teknologi seperti drone thermal dan alat deteksi bawah air Aqua Eye menjadi bagian penting dalam upaya mempercepat penemuan. Hery Marantika, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, menjelaskan bahwa pihaknya terus mengoptimalkan metode penyisiran untuk menemukan korban.
Menurut sumber di lokasi, Sungai Batang Toru dikenal memiliki arus yang cukup kuat, terutama di bagian bawah. Daerah ini juga kerap menjadi lokasi kejadian serupa, sehingga warga sekitar dianjurkan untuk memperhatikan kondisi lingkungan sebelum melakukan aktivitas di air. Selama pencarian, tim SAR melakukan penyisiran permukaan sungai, pemantauan udara menggunakan drone, dan penelusuran darat di sepanjang bantaran air. Proses ini memakan waktu sekitar 120 jam, dengan kemungkinan keberhasilan disebabkan oleh kombinasi teknologi dan kerja keras tim.
Proses Pencarian dan Penyelamatan
Setelah korban ditemukan, jasadnya langsung dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa ke rumah duka. Hery Marantika menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Abdul, yang berharap kejadian ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat sekitar. Pemancing hanyut di Sungai Batang Toru juga menimbulkan kecemasan di kalangan warga yang sering beraktivitas di air.
Dalam penyelidikan lebih lanjut, petugas menyebutkan bahwa kondisi air di sungai pada saat kejadian cukup tenang, namun arus yang deras masih menjadi faktor utama dalam kecelakaan ini. Korban diduga mengalami kesulitan bernapas setelah terseret arus, sehingga tidak bisa berenang kembali ke tepi sungai. Penemuan jasad korban terjadi setelah tim SAR menemukan sisa-sisa perahu dan benda yang diduga terkait dengan kejadian tersebut. “Kami mengharapkan masyarakat lebih waspada saat melakukan aktivitas di Sungai Batang Toru,” kata Hery, Kamis (28/5).
Keluarga Abdul, yang terdiri dari beberapa anggota, menyatakan kekecewaan dan sedih atas kehilangan anggota keluarga mereka. Mereka berharap pihak berwenang dapat memberikan penjelasan lebih jelas mengenai penyebab kecelakaan ini. Selain itu, warga setempat juga menyampaikan dukungan dan doa untuk korban. Pemancing hanyut di Sungai Batang Toru menjadi perhatian publik, terutama bagi mereka yang sering menghabiskan waktu di sungai untuk kegiatan rekreasi atau ekonomi.
Sebagai langkah pencegahan, BPBD Tapanuli Utara bersama dengan pihak terkait berencana meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya hanyut di sungai. Kejadian ini juga menegaskan pentingnya alat pelindung diri saat beraktivitas di air. Tim SAR yang terlibat dalam operasi menyebutkan bahwa penemuan korban terjadi setelah memeriksa beberapa titik kritis, termasuk daerah dengan aliran air yang lebih deras.
