Solution For: Kerusakan Lingkungan Tambang Emas Ilegal Sijunjung Diumumkan Citra Satelit
Solution For – Badan Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Barat mengungkap data serius terkait degradasi lingkungan di lokasi tambang emas ilegal Sijunjung, yang dikaitkan dengan kecelakaan yang menyebabkan kematian sembilan pekerja. Dengan memanfaatkan teknologi citra satelit, lembaga lingkungan ini menunjukkan perubahan ekosistem yang dramatis, termasuk penggundulan hutan, peningkatan polusi air, dan pembentukan lereng yang rapuh. Solution For menjadi isu utama yang muncul dalam upaya menemukan solusi untuk menangani masalah lingkungan dan keselamatan kerja di daerah ini.
Kerusakan Ekosistem Sejak 2021
Analisis citra satelit menunjukkan pergeseran signifikan dari vegetasi alami menjadi area tambang terbuka sejak 2021. Pada tahun tersebut, kawasan masih berupa hutan, kebun, dan sawah yang hijau. Namun, pada 2022, aktivitas tambang mulai terlihat, mengubah struktur tanah dan mengganggu sistem hidrologi lokal. Solution For menuntut transparansi dalam pemantauan lingkungan, karena kerusakan yang terjadi terus berkembang, dari penurunan kualitas air hingga erosi tanah yang mengancam kestabilan geologis.
“Pengamatan dari citra satelit menunjukkan bahwa degradasi ekosistem di Sijunjung tidak hanya terbatas pada tahun 2022. Dari 2021 hingga 2024, area yang dulunya hijau kini hampir habis tergantikan oleh lereng tambang yang tidak teratur. Solution For menekankan pentingnya memulai perbaikan dari sumber utama kerusakan ini,” jelas Tommy Adam, Direktur Eksekutif Walhi Sumatra Barat, dalam wawancara Rabu (20/5).
Kerusakan Puncak di Tahun 2023-2024
Pada 2023, keadaan mulai memburuk dengan munculnya pola tambang terbuka yang menutupi hampir seluruh vegetasi. Citra satelit mencatat peningkatan sedimentasi hingga warna air sungai berubah menjadi coklat pekat. Pada 2024, kerusakan mencapai puncaknya dengan area bukaan mencapai 6,58 hektare, lereng tergali secara masif, dan material tambang langsung mengalir ke sungai, menyebabkan pendangkalan dan penyempitan alur air. Solution For menyoroti bahwa kecelakaan lalu ini bukan kebetulan, melainkan akibat dari pengelolaan lingkungan yang tidak terpantau.
“Kerusakan bentang alam di Sijunjung semakin parah, bahkan terlihat jelas dari satelit. Solution For mengingatkan bahwa tanggung jawab penutupan tambang ilegal dan pemulihan ekosistem harus direspons secara serius, bukan hanya setelah terjadi korban jiwa,” tambah Tommy Adam, mengingatkan bahwa 48 pekerja tambang emas ilegal telah tewas sejak 2012 hingga 2026.
Pengaruh pada Masyarakat dan Daerah Aliran Sungai
Kerusakan lingkungan tambang emas ilegal tidak hanya memengaruhi kehidupan alam, tetapi juga ancaman langsung terhadap masyarakat sekitar. Solution For menyoroti bahwa daerah aliran sungai (DAS) Kuantan, yang sebelumnya berfungsi sebagai penyangga ekologis, kini menjadi sumber polusi dan risiko banjir. Peningkatan sedimentasi mengganggu sistem irigasi petani, sementara pendangkalan sungai memicu penurunan kualitas air minum. Selain itu, risiko longsor semakin tinggi karena hilangnya akar tanaman yang menjaga kestabilan tanah.
Uli Arta Siagian, Koordinator Pengkampanye Eksekutif Nasional Walhi, menambahkan bahwa pemerintah daerah harus menetapkan solusi untuk menutup seluruh praktik tambang emas ilegal (PETI) secara permanen. Solution For menekankan bahwa langkah ini tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga mengurangi ancaman terhadap kehidupan manusia. Penggalian tanah yang tidak terkontrol serta penggunaan alat berat secara liar menjadi penyebab utama perubahan bentuk fisik tanah, yang secara langsung berdampak pada kecelakaan lalu.
Peran Citra Satelit dalam Menyelamatkan Ekosistem
Dengan kemampuan pemantauan jarak jauh, citra satelit menjadi alat penting dalam Solution For mengidentifikasi pola kerusakan dan mengungkap praktik ilegal. Teknologi ini memungkinkan Walhi mengumpulkan bukti visual yang jelas untuk mendesak pemerintah mengambil tindakan. Solution For juga membuka peluang kolaborasi dengan lembaga penelitian dan pemerintah pusat untuk menyusun kebijakan yang lebih ketat terhadap pertambangan emas tanpa izin.
Perluasan area tambang emas ilegal di Sijunjung mencerminkan kebutuhan Solution For untuk mengubah pola ekonomi yang mengutamakan keuntungan jangka pendek. Aktivitas tambang ini telah menyebabkan hampir 10.000 hektare lahan terdegradasi, merusak habitat hewan dan tumbuhan serta meningkatkan risiko bencana alam. Solution For menyarankan penerapan kebijakan berbasis data, termasuk penghentian eksploitasi di wilayah rentan longsor dan pemberian sanksi tegas kepada pelaku kejahatan lingkungan.
Kebutuhan Solusi Berkelanjutan
Solution For tidak hanya terfokus pada penutupan tambang ilegal, tetapi juga pada upaya pemulihan ekosistem. Walhi Sumatra Barat menekankan pentingnya reboisasi massal dan pengembangan pertanian berkelanjutan di kawasan yang terdegradasi. Selain itu, solusi harus mencakup pendidikan masyarakat tentang dampak lingkungan dari pertambangan tidak terkontrol dan pengawasan terhadap perusahaan yang terlibat dalam praktik ini. Solution For berharap pemerintah dapat mengintegrasikan aspek lingkungan dalam rencana pengembangan ekonomi daerah, agar pertumbuhan ekonomi tidak melanggar kelestarian alam.
“Solution For adalah jalan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Jika tidak segera diambil tindakan, kerusakan di Sijunjung akan terus berlanjut, mengorbankan lebih banyak pekerja dan mengancam ekosistem daerah ini,” pungkas Uli Arta Siagian.
