Special Plan: Properti Balikpapan Tampilkan Dinamika Berbeda
Special Plan – Dalam rangka Special Plan untuk meningkatkan daya saing sektor properti di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, terlihat perbedaan tren antara properti residensial dan komersial. Meski harga properti komersial mengalami penurunan, harga rumah baru justru tumbuh positif. Informasi ini diungkapkan oleh Robi Ariadi, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, dalam wawancara terbarunya pada Jumat (29/5) lalu.
Kenaikan Harga Rumah Baru di Tengah Tren Positif
Menurut Survei Harga Properti Residensial (SHPR), Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) di Balikpapan pada triwulan pertama 2026 mencapai 107,67, naik 1,44 persen secara tahunan (yoy). Angka ini meningkat dari pertumbuhan IHPR triwulan sebelumnya yang hanya 0,43 persen. Robi Ariadi menyebutkan, kenaikan harga rumah baru terjadi di semua tipe, baik rumah tipe besar, menengah, maupun kecil.
“Kenaikan IHPR mencerminkan permintaan yang tetap tinggi di tengah kondisi ekonomi yang membaik, terutama melalui Special Plan untuk pemulihan sektor properti,” terang Robi.
Faktor utama yang memengaruhi kenaikan harga jual rumah baru, menurutnya, adalah penyesuaian biaya produksi oleh pengembang. Kenaikan harga bahan baku konstruksi dan upah tenaga kerja menjadi alasan utama peningkatan harga tersebut. Meski demikian, kenaikan harga ini justru mengakibatkan penurunan volume penjualan di beberapa segmen.
Kondisi Properti Komersial yang Menurun
Sementara itu, sektor properti komersial di Balikpapan menunjukkan penurunan harga yang lebih landai dibandingkan triwulan sebelumnya. Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) pada triwulan I 2026 mencapai 105,70, turun 0,10 persen secara tahunan. Robi Ariadi menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk penyesuaian kebijakan dan dinamika pasar yang sedang berubah.
“Penurunan harga properti komersial mencerminkan persaingan yang lebih ketat, namun hal ini tidak mengurangi peran Special Plan dalam menjaga stabilitas sektor properti,” ujarnya.
Volume penjualan properti komersial juga mengalami penurunan signifikan. Pada triwulan I 2026, jumlah unit yang terjual mencapai 72, dibandingkan 162 unit di periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini lebih dalam di segmen rumah tipe kecil, yang melonjak dari 109 unit menjadi hanya 36 unit, atau turun 66,97 persen.
Strategi Pengembang untuk Pemulihan Pasar
Di tengah tantangan tersebut, para pengembang properti di Balikpapan masih optimis dan berupaya meningkatkan kepercayaan konsumen. Robi Ariadi mengungkapkan bahwa mereka mengadopsi strategi seperti peningkatan pasokan rumah tipe kecil dan menengah, pengembangan promosi yang lebih intens, serta inovasi desain untuk menarik minat calon pembeli.
Sebagian besar pembelian rumah baru masih didominasi oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dengan pangsa pasar mencapai 71 persen di triwulan I 2026. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, yang sebesar 87,7 persen. Meski demikian, pemanfaatan KPR tetap menjadi pilar utama dalam pemenuhan kebutuhan perumahan di kota tersebut.
Tantangan yang Tetap Menyebabkan Kenaikan Harga
Bank Indonesia Balikpapan mencatat beberapa tantangan yang masih menghambat pertumbuhan sektor properti. Kenaikan biaya bahan baku konstruksi dan upah tenaga kerja terus berdampak pada harga rumah baru. Selain itu, kualitas kredit calon konsumen, kendala perizinan, keterbatasan lahan, serta kenaikan suku bunga KPR menjadi faktor utama yang perlu dikelola secara cermat dalam rangka Special Plan.
“Special Plan yang dicanangkan Bank Indonesia Balikpapan bertujuan untuk mengatasi tantangan ini dengan memberikan stimulus dan pengawasan yang lebih ketat terhadap pasar properti,” tambah Robi.
Menurutnya, meski harga rumah baru naik, permintaan tetap stabil karena ekonomi kota Balikpapan terus berkembang. Kenaikan harga juga didorong oleh ketersediaan lahan yang terbatas, yang membuat pengembang perlu meningkatkan nilai tambah pada produk mereka.
Pemulihan Segmen Hotel dan Aktivitas Ekonomi
Pemulihan segmen properti komersial terutama terlihat pada sektor hotel. Hasil Survei Perkembangan Properti Komersial (PPKom) menunjukkan penurunan harga yang lebih kecil dibandingkan triwulan sebelumnya. Robi Ariadi menyebutkan bahwa kinerja sektor perhotelan mulai membaik, didukung oleh operasionalisasi Kilang Pertamina Balikpapan, berlanjutnya pembangunan tahap II Ibu Kota Nusantara (IKN), serta meningkatnya aktivitas meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE).
Robi menekankan bahwa mobilitas pekerja dan dinamika ekonomi yang meningkat menjadi faktor kunci dalam mendukung prospek sektor properti di Balikpapan. Meski mengalami perbedaan tren, sektor properti residensial dan komersial tetap dinilai memiliki potensi tumbuh dalam jangka panjang sebagai bagian dari Special Plan untuk pemulihan pasar.
