Special Plan: Minuman Keras Dihentikan di Manokwari Saat Pesparawi Nasional
Special Plan – Manokwari, ibu kota Kabupaten Manokwari, tengah menerapkan Special Plan khusus untuk mempersiapkan penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional (Pesparawi) XIV yang akan diadakan pada 18 hingga 28 Juni 2026. Sebagai bagian dari rencana tersebut, pemerintah daerah memutuskan untuk sementara menghentikan penjualan minuman beralkohol, sementara tempat-tempat hiburan malam juga dibatasi jam operasionalnya. Upaya ini bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan teratur bagi ribuan tamu yang akan datang, termasuk peserta dari 37 provinsi di Indonesia.
Langkah Antisipatif untuk Keberhasilan Acara
Special Plan yang diumumkan melalui Instruksi Bupati Manokwari Nomor 691 Tahun 2026 melibatkan koordinasi intensif antara pemerintah, dinas terkait, dan masyarakat setempat. Wakil Bupati Manokwari, Mugiyono, menjelaskan bahwa larangan minuman keras berlaku selama 19 hari, dari 14 Juni hingga 2 Juli 2026. “Ini adalah langkah strategis untuk memastikan kenyamanan peserta dan pengunjung, serta menjaga suasana yang harmonis selama acara berlangsung,” kata dia dalam wawancara eksklusif.
Secara teknis, larangan ini diterapkan melalui pengaturan zona bebas alkohol di sepanjang jalur utama dan area wisata yang akan ramai dikunjungi peserta. Selain itu, pihak keamanan setempat diberikan wewenang khusus untuk mengawasi kepatuhan terhadap aturan ini. “Kami juga berharap masyarakat bersedia mendukung kebijakan ini, terutama yang tinggal di sekitar kawasan wisata Borarsi,” tambah Sekretaris Daerah Kabupaten Manokwari, Yan Ayomi, dalam pernyataannya.
Peran Masyarakat dalam Mewujudkan Special Plan
Dalam Special Plan ini, masyarakat lokal diminta berperan aktif dalam menjaga ketertiban. Yan Ayomi menyatakan bahwa sejak kontingen peserta mulai berdatangan, masyarakat telah menunjukkan respons positif. “Kami mendengar banyak dukungan dari warga setempat, termasuk penghentian aktivitas yang bisa memicu gangguan kamtibmas,” jelasnya. Dinas Perdagangan dan Koperasi setempat juga berupaya memastikan keberlanjutan program ini dengan mengajak pengusaha minuman keras berkolaborasi dalam memenuhi kebutuhan alternatif masyarakat.
Persiapan infrastruktur menjadi salah satu prioritas dalam Special Plan. Pemkab Manokwari telah menyelesaikan renovasi Ruang Terbuka Publik (RTP) Borarsi, yang akan menjadi pusat acara pembukaan dan penutupan Pesparawi Nasional XIV. Lokasi ini juga dilengkapi fasilitas kesehatan darurat, toilet, dan area parkir yang memadai. “Kami yakin dengan persiapan yang matang, Manokwari akan menjadi tuan rumah acara yang sukses dan berkesan,” ujar Mugiyono.
Langkah pemerintah ini selaras dengan tujuan nasional Pesparawi Nasional, yaitu memperkuat identitas budaya dan religius Indonesia melalui pertunjukan paduan suara gerejawi. Special Plan tidak hanya mencakup larangan minuman keras, tetapi juga pengaturan transportasi, pengawasan lingkungan, serta sosialisasi kegiatan kepada pengunjung. “Kami juga mengimbau peserta untuk mengikuti protokol kesehatan dan menjaga kebersihan, agar Manokwari tetap menjadi kota yang indah dan nyaman,” lanjut Yan Ayomi.
“Manokwari memang dikenal sebagai kota yang ramah dan penuh semangat. Dengan Special Plan ini, kami ingin menunjukkan komitmen untuk menjaga keharmonisan selama acara berlangsung,” imbuh Yan Ayomi.
Dalam rangka menjaga keberlanjutan Special Plan, pemerintah akan terus memantau kepatuhan masyarakat dan pelaku usaha. Pihak keamanan juga bersiap memberikan sanksi tegas kepada pelanggar, seperti denda administratif atau penutupan sementara usaha yang tidak mematuhi aturan. “Kami percaya dengan kerja sama yang baik, Manokwari akan menjadi contoh kota yang mampu menghadirkan suasana ibukota dalam kota yang sederhana,” pungkas Mugiyono.
Kebijakan Special Plan ini menjadi langkah inovatif dalam menyukseskan acara nasional. Dengan menggabungkan pengaturan keamanan, kesehatan, dan lingkungan, Manokwari menunjukkan komitmen untuk menjadikan Pesparawi Nasional XIV sebagai momentum penting bagi pengembangan seni dan budaya lokal. Diharapkan, strategi ini juga dapat menjadi referensi bagi kota-kota lain dalam menyambut acara besar serupa.
