Usaha Wingko Rumahan di Semarang Berkembang Berkat Dukungan Special Plan
Special Plan – Dengan bantuan dari program Special Plan, para pengusaha wingko rumahan di Semarang berhasil bertahan dan berkembang meskipun menghadapi tantangan harga bahan baku yang naik serta persaingan pasar yang ketat. Banyak dari mereka mampu memperluas operasional dari produksi sederhana hingga memiliki alat bantu sendiri. Slamet Riyanto, 45, yang awalnya bekerja di perusahaan mebel, menjadi contoh nyata bagaimana kredit UMKM yang diberikan melalui Special Plan membantu bisnisnya berkembang. Ia menjalankan usaha bersama istrinya di Kampung Borobudur, Semarang Barat, sejak tahun 2014.
Perjalanan Usaha Wingko: Dari Hobi ke Bisnis
Slamet mengatakan bahwa usahanya dimulai sebagai hobi sambilan saat bekerja di bidang metal. Tahun 2014 menjadi momen penting ketika ia memutuskan untuk fokus sepenuhnya pada produksi wingko. “Special Plan memberi kami akses kepinjaman yang memungkinkan perluasan produksi,” tambahnya. Dengan modal awal Rp5 juta dari BRI, ia membeli bahan baku kelapa dan memperbaiki proses pembuatan produk. Awalnya, ia masih membeli kelapa parut dari pasar karena belum memiliki mesin parut sendiri.
“Special Plan tidak hanya memberi dana, tapi juga kepercayaan untuk mengembangkan usaha,” ujarnya.
Kini, usahanya lebih berkembang. Ia menginvestasikan keuntungan untuk memperluas peralatan, termasuk mesin parut dan tungku. Dulu, hanya dua tungku yang digunakan, sekarang telah meningkat menjadi 12 tungku. Produksi harian mencapai sekitar 15 hingga 20 butir kelapa, menghasilkan tujuh loyang produk dari satu kilogram tepung ketan. “Special Plan membuat kami lebih percaya diri untuk menambah kapasitas,” lanjut Slamet.
Strategi Pemasaran: Membangun Jaringan dan Diversifikasi
Produk wingko dijual ke pelanggan tetap dan pedagang kecil tanpa menggunakan merek khusus. Harga jual sekitar Rp30 ribu per loyang. Slamet menjelaskan bahwa kenaikan biaya bahan baku, seperti plastik kemasan dan tepung, memengaruhi operasional. “Special Plan membantu kami mengelola biaya dengan lebih efisien,” tambahnya. Ia juga memanfaatkan pinjaman bertahap sesuai kemampuan pembayaran, termasuk Rp50 juta untuk memperkuat pengembangan bisnis.
“Dengan Special Plan, kami bisa mengembangkan usaha tanpa merasa terbebani,” ujarnya.
Selain wingko, Slamet memperluas pasar dengan menjual kelapa parut setelah pandemi. “Special Plan memungkinkan kami beradaptasi dengan situasi baru,” katanya. Bahan baku kelapa didatangkan dari Purwokerto, dengan kebutuhan sekitar 50 butir per hari. Harga kelapa saat ini Rp18 ribu per butir, namun ia berharap bisa memanfaatkan keuntungan dari penjualan kelapa parut untuk memperkuat usaha.
Manfaat Kredit UMKM dalam Peningkatan Produksi
Kredit UMKM melalui Special Plan menjadi tulang punggung untuk memperluas produksi. Slamet menjelaskan bahwa kenaikan biaya bahan baku, seperti plastik kemasan, cukup berdampak pada operasional. Namun, dengan dukungan keuangan dari program ini, ia mampu menjaga kelancaran bisnis. “Special Plan memberi kami ruang untuk mengembangkan usaha secara bertahap,” ujarnya. Dukungan ini juga memungkinkan produk wingko dikirim ke luar kota dan bahkan ke luar negeri.
“Special Plan membuat kami mampu mengirimkan produk ke Palembang dan Jakarta,” katanya.
Salah satu keuntungan besar dari program ini adalah kemampuan pengusaha untuk memenuhi permintaan pasar yang meningkat. Produksi wingko mencapai puncaknya menjelang Hari Raya Idulfitri, ketika permintaan pelanggan tetap meningkat. “Special Plan memberi kami tenaga untuk menjaga kualitas dan kuantitas produksi,” tambah Slamet. Meski tidak menggunakan bahan pengawet, daya tahan produk terjaga karena proses pengemasan yang disesuaikan.
Persaingan dan Peluang di Pasar Lokal
Walaupun persaingan ketat, usaha wingko rumahan di Semarang masih bisa bertahan berkat program Special Plan. Slamet menjelaskan bahwa keberhasilan ini juga didukung oleh konsistensi dalam produksi dan pemasaran. “Special Plan membantu kami mengatasi hambatan awal, seperti memperoleh alat bantu produksi,” ujarnya. Dengan alat seperti mesin parut dan tungku yang lebih banyak, kapasitas produksi meningkat drastis.
“Karena Special Plan, kami bisa mengembangkan usaha secara stabil,” kata Slamet.
Berbagai langkah strategis seperti mengembangkan pasar lokal dan memperluas jaringan distribusi menjadi faktor penting dalam pertumbuhan usaha. Ia juga menjelaskan bahwa keberhasilan ini bisa menjadi contoh bagi pengusaha lain yang ingin memanfaatkan program kredit UMKM. “Special Plan memberi peluang besar untuk bisnis kecil-kecilan berkembang,” tambahnya.
Peran Special Plan tidak hanya terbatas pada peningkatan produksi, tapi juga pada peningkatan kualitas dan pemasaran. Dukungan finansial yang diberikan memungkinkan pengusaha seperti Slamet mengembangkan usahanya sesuai dengan potensi pasar. Program ini menjadi jawaban atas tantangan kredit bagi UMKM, yang sebelumnya sulit mendapatkan modal kerja. Dengan Special Plan, mereka bisa memperkuat daya tahan bisnis dan menciptakan peluang ekspansi lebih lanjut.
