BaliCEB dan Pemprov Bali Sinergi Bangun MICE Internasional Berbasis Budaya Lokal
Topics Covered: Pemerintah Bali menunjukkan komitmen kuat untuk mengembangkan industri MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions) dengan pendekatan yang menggabungkan kearifan lokal, keberlanjutan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Pertemuan antara Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) dengan Pemprov Bali yang digelar di Jayasabha, Denpasar, pada Rabu (27/5), menjadi momen penting dalam memperkuat koordinasi pembangunan sektor ini. Hadir dalam sesi tersebut adalah Gubernur Bali, Wayan Koster, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Wayan Sumarajaya, serta tim pengurus BaliCEB seperti Ng Choi Choi, Putri Windrawati, dan Agung Rai Suryawijaya.
Kolaborasi untuk MICE yang Berkelanjutan
Topics Covered: Dalam pertemuan, Gubernur Koster menekankan bahwa keberhasilan MICE di Bali tidak hanya bergantung pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada strategi pengelolaan yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa Bali harus menjadi contoh destinasi pariwisata yang mampu mengintegrasikan keunggulan budaya lokal dengan inovasi modern. “MICE harus menjadi platform untuk memperkuat ekonomi lokal, sekaligus menjaga keaslian budaya dan keberlanjutan alam,” ujarnya. Gubernur juga meminta BaliCEB berperan aktif dalam merancang acara yang berdampak luas pada masyarakat setempat.
Topics Covered: Salah satu fokus utama dalam kerja sama ini adalah pengembangan konsep Green MICE. Pemprov Bali menargetkan 2028 sebagai tahun keberhasilan penerapan transportasi ramah lingkungan, seperti penggunaan kendaraan listrik untuk kegiatan pariwisata. Selain itu, infrastruktur pengisian baterai (charging station) akan diperluas untuk mendukung kebijakan ini. Gubernur Koster menyoroti bahwa inisiatif ini tidak hanya membantu lingkungan, tetapi juga meningkatkan daya tarik Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.
Memperkuat Reputasi Bali sebagai Destinasi Global
Topics Covered: Gubernur Bali juga menekankan perlunya menjaga citra pariwisata Bali sebagai pusat kegiatan internasional. Ia meminta data tentang jumlah pengusaha dan tenaga kerja di sektor pariwisata dikumpulkan untuk menyusun kebijakan strategis. Selain itu, universitas di Bali dinilai memiliki potensi besar menampung mahasiswa asing dalam program pendidikan pariwisata, budaya, dan layanan penginapan. “Bali harus menjadi tempat di mana dunia belajar tentang pariwisata berbasis budaya,” tambah Gubernur dalam penjelasannya.
Topics Covered: Sebagai bagian dari upaya ini, Pemprov Bali mendorong penggunaan gastronomi lokal sebagai elemen utama pengalaman peserta event. Masakan tradisional seperti ayam betutu, klepon, plecing, dan produk buah-buahan asli menjadi bagian integral dari acara. Kebijakan penggunaan bahan pangan organik lokal juga diusung untuk mendukung konsep pariwisata hijau. Bali merencanakan lomba masakan dengan bahan non-beras sebagai langkah memperkaya identitas kuliner daerah.
Topics Covered: Selain itu, Gubernur menyoroti pentingnya memperkuat keberadaan PCO/EO (Pengaturan Acara dan Pembiayaan) lokal Bali. Ia berharap BaliCEB bisa membantu mendorong pertumbuhan lembaga ini menjadi penyelenggara event yang profesional dan kompetitif secara internasional. Kebijakan seperti menjamin izin usaha dan domisili perusahaan di Bali, serta mengutamakan layanan perbankan lokal seperti Bank BPD Bali, juga menjadi fokusnya. “Dengan kolaborasi ini, Bali akan semakin dipercaya sebagai destinasi MICE yang khas,” imbuh Koster.
“MICE adalah wadah untuk menyatukan budaya lokal, inovasi, dan pemberdayaan ekonomi,” kata Gubernur Bali dalam wawancara.
Hal ini sejalan dengan visi Bali menjadi destinasi pariwisata yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya tarik internasional melalui keunikan kearifan lokal. Dengan pendekatan holistik, Pemprov Bali dan BaliCEB berharap menciptakan ekosistem MICE yang berdampak positif bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian sumber daya alam dan budaya. Target ini memerlukan peran aktif semua pihak, termasuk pelaku usaha lokal, pengurus event, dan masyarakat.
