Jaga Segitiga Terumbu Karang, Tim Eropa Tinjau Proyek Ekonomi Biru di Sulut
Kunjungan Tim Eropa untuk Evaluasi Kolaborasi Konservasi Laut
Beritabaru1.com – Sebuah delegasi dari negara-negara Eropa, yang terdiri atas duta besar serta pejabat tinggi dari berbagai kantor diplomatik, melakukan inspeksi langsung ke lokasi program “Marine Biodiversity and Support of Coastal Fisheries in the Coral Triangle” (Dukungan terhadap Keanekaragaman Laut dan Perikanan Pesisir di Segitiga Terumbu Karang). Program ini menjadi fokus perhatian karena menggabungkan upaya menjaga ekosistem laut dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Kawasan yang ditinjau meliputi wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara, yang dianggap memiliki potensi konservasi tinggi. Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa bekerja sama dalam proyek ini, yang dikoordinasikan oleh Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program, serta didanai oleh Bank Pembangunan Jerman KfW. Kolaborasi ini juga melibatkan Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem.
Kemitraan untuk Konservasi Ekosistem Global
Program tersebut berjalan melalui pendekatan sinergis, dengan bantuan dana dari Uni Eropa dan Kementerian Lingkungan Hidup, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir Federasi Jerman (BMUKN). Proyek ini memperluas kegiatan konservasi ke wilayah Sulawesi Utara, Aceh, serta Nusa Tenggara Barat, dan juga mencakup kawasan Segitiga Terumbu Karang secara lebih luas.
“Indonesia memiliki peran strategis bagi dunia karena menjadi salah satu sentra keanekaragaman hayati laut terbesar di bumi. Melalui strategi Global Gateway, Uni Eropa mendukung pemulihan terumbu karang, pengembangan sektor perikanan, serta penciptaan peluang ekonomi bagi warga pesisir, khususnya di Minahasa Utara,” kata Denis Chaibi, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia.
Kunjungan delegasi Eropa dilakukan bersama Pemerintah Indonesia dan melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat dari enam desa, yaitu Desa Gangga Dua, Bahoi, Lihunu, Tarabitan, Bulutui, dan GaloGalo. Pihak-pihak terkait mencerminkan komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir.
“Kami mengapresiasi peran Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Uni Eropa, KfW German Development Bank, WCS, serta seluruh mitra dalam penyelenggaraan proyek ini. Kunjungan lapangan diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama internasional dan menampilkan praktik optimal pengelolaan kawasan konservasi,” tambah Nandang Prihadi, Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem.
Dampak yang Dirasakan Masyarakat
Kegiatan ini telah menciptakan manfaat nyata di berbagai aspek. Dampak lingkungan terlihat dalam pelestarian ekosistem laut, sementara dampak ekonomi terwujud melalui penguatan sektor perikanan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Hasil ini tidak hanya terbatas pada Sulawesi Utara dan Maluku Utara, tetapi juga terdistribusi ke Aceh serta Nusa Tenggara Barat.
Wilayah Minahasa Utara dipilih sebagai lokasi utama karena memiliki ekosistem kritis seperti terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove. Kawasan ini juga menjadi penyangga bagi Taman Nasional Bunaken, serta mendukung ketahanan pangan dan penghidupan ribuan penduduk sekitar.
Dengan pendekatan kolaboratif, proyek ini membuktikan bahwa perlindungan lingkungan tidak saling bertentangan dengan pertumbuhan ekonomi, melainkan bisa berjalan seiringan. Sinergi antara pemerintah, organisasi internasional, dan masyarakat lokal menjadi dasar keberhasilan program ini, yang telah terbukti memberikan manfaat jangka panjang bagi wilayah pesisir Indonesia.
