Update Banjir Kendari: 657 Rumah dan 50 Hektare Sawah Terendam, 2.985 Jiwa Terdampak
Banjir di Kendari Rendam 657 Rumah – Banjir di Kendari yang terjadi beberapa hari terakhir menyebabkan kerusakan signifikan, khususnya pada sektor permukiman dan pertanian. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, terdapat 657 rumah yang tergenang air, sementara 50 hektare lahan sawah di daerah tersebut juga terdampak. Bencana ini mengakibatkan 2.985 warga mengalami kesulitan, baik dalam kebutuhan sehari-hari maupun akses ke layanan publik. Banjir yang melanda Kota Kendari sejak akhir pekan lalu telah menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat setempat.
Dampak Banjir di Kota Kendari
Pelaporan BPBD Kota Kendari menyebutkan bahwa banjir ini meliputi 15 titik lokasi, dengan wilayah terparah berada di Kelurahan Kambu. Di sana, air menggenang hingga beberapa meter, menyebabkan kerusakan pada dua permukiman utama, yakni Jalan Mangkeray dan Jalan Hidayatullah. Lebih dari 100 rumah di Jalan Mangkeray mengalami kerusakan parah, sementara 76 unit bangunan di Jalan Hidayatullah juga terkena dampak serupa. Dalam beberapa hari terakhir, warga setempat terpaksa mengungsi ke tempat tinggal sementara, terutama di Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, yang menjadi salah satu area paling terdampak.
Menurut Cornelius Padang, kepala BPBD Kota Kendari, banjir yang terjadi disebabkan oleh hujan deras yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut. “Curah hujan tinggi memicu luapan air di beberapa daerah,” jelas Cornelius saat memberikan pernyataan di Kendari, Senin (11/5). Ia menambahkan bahwa daerah yang tergenang mencakup area padat penduduk, termasuk sebagian besar permukiman warga. Selain itu, banjir juga menyebabkan gangguan pada akses jalan umum, sehingga memperlambat upaya evakuasi dan distribusi bantuan.
Penanganan dan Upaya Mitigasi
BPBD Kota Kendari telah berupaya mempercepat proses penanganan, termasuk membagikan bantuan sementara kepada warga yang terdampak. Namun, badan tersebut masih memantau kondisi air di berbagai titik, khususnya di Kecamatan Anduonohu dan Kendari Barat, yang juga mengalami longsor akibat curah hujan tinggi. “Saat ini, kami sedang melakukan pengecekan di lapangan untuk memastikan tidak ada warga yang terlantar,” kata Cornelius. Pemantauan terus dilakukan agar potensi bahaya bisa diperkirakan dan dianalisis secara lebih baik.
Di samping itu, Pemer
