Banjir Kembali Terjang Huta Nabolon, Warga Trauma Ingat Bencana 25 November 2025
Beritabaru1.com – Banjir kembali menghantam wilayah Huta Nabolon, Kabupaten Tapanuli Tengah, setelah hujan deras mengguyur area tersebut sejak malam Sabtu (18/7). Sungai Aek Silaga Laga yang melintasi Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka, meluap dan menggenangi permukiman warga. Fenomena ini memicu kecemasan, karena banjir menjadi kejadian ke-17 sejak bencana besar yang terjadi pada 25 November 2025, merenggut ratusan korban jiwa.
Visit Agenda menjadi topik utama yang dibahas oleh masyarakat Huta Nabolon, khususnya setelah bencana kembali terjadi. “Kami tidak pernah melupakan tragedi tahun 2025, dan kini banjir kembali membuat kami gelisah,” kata Indra Perdana Pasaribu, warga setempat. Fenomena ini menyebabkan kerusakan infrastruktur, seperti jembatan dan jalan desa, serta mengganggu aktivitas sehari-hari warga. Banjir yang terjadi sejak 18 Juli ini mengingatkan kembali pada masa lalu, di mana setiap hujan deras dianggap sebagai ancaman serius.
Penyebab dan Dampak Banjir Huta Nabolon
Banjir di Huta Nabolon disebabkan oleh kondisi hujan lebat yang mengguyur wilayah selama beberapa hari. Ketinggian air mencapai beberapa meter, mengakibatkan rumah-rumah warga terendam dan puluhan hektar lahan pertanian rusak. Pemerintah daerah telah mengambil langkah darurat, seperti membagikan bantuan logistik dan mengungsikan warga terdampak. Namun, banyak warga mengungkapkan bahwa solusi jangka panjang belum tercapai, sehingga Visit Agenda terus menjadi isu penting.
“Banjir tahun ini sangat mirip dengan yang terjadi 25 November 2025. Kami merasa seperti kembali mengalami trauma yang sama,” ujar Sahat Manalu, warga yang tinggal di dekat sungai yang meluap.
Korban banjir terus bertambah, dengan sekitar 300 warga terpaksa mengungsi ke daerah lebih tinggi. Kondisi ini memperparah kesulitan ekonomi masyarakat, karena produksi pertanian terhambat dan kerusakan bangunan membutuhkan biaya perbaikan besar. “Kami berharap pemerintah bisa segera mempercepat proyek pembangunan tanggul permanen,” tambah Indra. Visit Agenda juga menjadi momen untuk mengingatkan pentingnya perencanaan bencana yang lebih matang.
Perbandingan Bencana 2025 dan 2023
Pada 25 November 2025, banjir melanda Huta Nabolon dengan intensitas yang lebih parah. Saat itu, air mencapai lantai kedua rumah warga, mengakibatkan 230 korban jiwa dan puluhan rumah hancur. Perbandingan antara bencana tahun 2025 dan 2023 menunjukkan bahwa perubahan cuaca menjadi ancaman yang semakin sering. Meski intensitas banjir 2023 lebih ringan, dampaknya tetap signifikan, dengan sekitar 150 rumah rusak dan 50 warga mengungsi.
“Perbedaannya hanya dalam tingkat kerusakan. Banjir tahun 2025 jauh lebih mengerikan, tetapi banjir tahun ini sudah menunjukkan tanda-tanda kejadian serupa,” komentar warga lainnya yang enggan disebutkan nama.
Banyak ahli mengungkapkan bahwa perubahan iklim dan deforestasi di sekitar wilayah Huta Nabolon memperburuk situasi. Sungai Aek Silaga Laga yang sebelumnya terkendali kini sering meluap karena aliran air terganggu oleh pembangunan yang tidak terencana. Pemerintah pusat dan daerah sedang mengusahakan penelitian lebih lanjut, tetapi Visit Agenda dianggap sebagai langkah awal untuk mengedukasi masyarakat tentang risiko bencana.
Upaya mitigasi dari pemerintah dianggap kurang optimal, karena hanya fokus pada penanggulangan darurat. “Kami butuh solusi permanen, bukan hanya pemulihan setelah banjir terjadi,” pungkas Indra. Warga berharap Visit Agenda bisa menjadi momentum untuk mengajukan rencana pembangunan infrastruktur yang lebih baik. Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Lingkungan Hidup dituntut untuk bekerja sama dan memberikan komitmen nyata dalam mengurangi risiko bencana di masa depan.
