Kecelakaan Bus ALS di Muratara, DPR Soroti Lemahnya Pengawasan Keselamatan Jalan Nasional
Visit Agenda: Kecelakaan Maut di Jalur Jalinsum Karang Jaya
Visit Agenda – Tragedi maut yang melibatkan bus ALS dan truk tangki BBM di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) telah memicu sorotan anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty. Insiden tersebut, yang terjadi pada hari Minggu (10/5), menunjukkan ketidakseimbangan antara faktor manusia dan infrastruktur jalan nasional. Saadiah menilai kecelakaan ini bukan hanya akibat kesalahan pengemudi, tetapi juga mencerminkan kelemahan pengawasan keselamatan jalan yang diterapkan pemerintah.
Visit Agenda: Kritik terhadap Sistem Keselamatan Transportasi
Menurut Saadiah, kejadian ini menyoroti kegagalan negara dalam mengelola keselamatan transportasi secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa penyebab kecelakaan sering kali tidak hanya berada pada kesalahan pengemudi, melainkan juga kurangnya perhatian terhadap kondisi jalan yang sudah tidak memenuhi standar. “Visit Agenda menunjukkan bahwa kita perlu lebih serius dalam mengevaluasi sistem keselamatan jalan nasional, karena kecelakaan seperti ini bisa terjadi berulang jika tidak ada tindakan yang tepat,” jelasnya.
“Kita tidak boleh menunggu korban berikutnya baru bergerak. Keselamatan jalan harus menjadi prioritas utama negara,” pungkas Saadiah.
Dalam laporan penyelidikan, kecelakaan terjadi saat bus ALS berusaha menghindari lubang jalan di Jalinsum Karang Jaya. Manuver mendadak tersebut menyebabkan kendaraan masuk ke jalur berlawanan dan bertabrakan frontal dengan truk BBM. Akibatnya, dua unit kendaraan terbakar dan menyebabkan korban jiwa. Saadiah mengkritik kondisi jalan yang rusak dan kurangnya fasilitas keselamatan, seperti rambu peringatan atau marka jalan, yang dinilai berkontribusi pada risiko kecelakaan.
Saadiah mengungkapkan bahwa data dari Ditjen Bina Marga menunjukkan hanya sekitar 33,45% jalan di Provinsi Sumatera Selatan dalam kondisi baik. Hal ini terkesan ironis, mengingat banyak ruas jalan di sana justru membahayakan pengguna. “Visit Agenda menunjukkan bahwa kita perlu lebih banyak kehati-hatian dalam memperbaiki infrastruktur jalan, karena kecelakaan besar bisa terjadi jika tidak diantisipasi secara dini,” tambahnya.
Kurangnya marka jalan dan rambu peringatan menjadi salah satu faktor utama kecelakaan tersebut. Laporan menyebutkan bahwa sekitar titik tabrakan tidak ada tanda-tanda peringatan jalan rusak, sehingga pengemudi tidak bisa mengantisipasi bahaya. Saadiah menyoroti bahwa kondisi marka jalan yang memudar dan jalan berlubang berpotensi menimbulkan risiko serius bagi pengguna jalan, terutama saat ada perubahan arah mendadak.
Visit Agenda juga menyebutkan bahwa kecelakaan melibatkan kendaraan berbahan bakar berbahaya (B3) perlu diperhatikan secara khusus. Menurutnya, kebakaran yang terjadi dalam insiden ini menunjukkan perlunya standar keamanan armada pengangkut BBM yang lebih ketat. “Visit Agenda mendorong adanya audit ketat terhadap kendaraan B3, agar setiap kecelakaan tidak langsung berubah menjadi tragedi besar,” paparnya.
Dalam upaya pencegahan, Saadiah menyarankan pemerintah melakukan audit total terhadap kondisi jalan nasional, khususnya di jalur lintas provinsi yang sering digunakan. Ia juga menekankan pentingnya penguatan anggaran preservasi jalan agar perbaikan tidak lagi bersifat reaktif setelah ada korban. “Visit Agenda menegaskan bahwa keselamatan jalan adalah tanggung jawab bersama, dan pemerintah harus menjadi pelaku utama perbaikan sistem ini,” tambahnya.
