Masih Perlukah Novelty di Kampus?
Kebaruan sebagai Beban Akademik
Beritabaru1.com – Masih Perlukah Novelty di Kampus? Pertanyaan ini semakin sering muncul seiring dengan meningkatnya tuntutan akademik. Kebaruan atau novelty telah menjadi standar wajib bagi karya ilmiah mahasiswa. Skripsi, tesis, dan disertasi berisiko ditolak jika tidak memuat unsur kebaruan yang jelas. Proses panjang penelitian menjadi sia-sia ketika unsur novelty tidak terpenuhi, sehingga kelulusan tertunda.
Dunia pendidikan tinggi masih menganggap kebaruan sebagai sesuatu yang sakral. Kampus bergengsi biasanya menunjukkan nilai novelty yang tinggi dalam publikasi mereka. Sebaliknya, jumlah karya dengan kebaruan rendah membuat sebuah kampus seolah-olah bukan termasuk papan atas. Seluruh sivitas akademika kemudian dieksplorasi untuk menggali kebaruan dari berbagai sudut pandang. Mahasiswa menjadi pihak yang paling terbebani, karena bobot pencarian kebaruan lebih besar dan menjadi kunci kelulusan.
Evolusi Konsep Kebaruan
Nilai kebaruan pada mulanya digunakan untuk mempopulasikan jumlah penelitian. Semakin banyak bidang dan tema yang diteliti, semakin besar peluang kampus masuk dalam jajaran institusi berpengaruh. Kebaruan tentu harus bersifat baru. Ketika era buku masih dominan, kebaruannya adalah digitalisasi. Jika teknologi pertanian masih konvensional, kebaruannya terletak pada pertanian modern di lahan sempit. Kedokteran konvensional kemudian menemukan kebaruannya dalam kedokteran digital.
Inti dari kebaruan adalah temuan yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Tujuannya jelas, yaitu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan berada di garda terdepan kemajuan peradaban manusia. Kampus sebagai pemilik ilmu pengetahuan dapat membuktikan eksistensinya sebagai institusi yang selalu terdepan dalam memikirkan hal-hal yang bahkan manusia belum pikirkan pada masanya.
Dari Motor Linier hingga Maglev
Pada tahun 1986, saat penulis mempelajari ilmu kelistrikan, kebaruan di bidang tersebut sudah mulai muncul dengan ditemukannya motor linier di skala kampus. Ide dasarnya berasal dari motor listrik yang semula berbentuk bulat dan berputar. Badannya kemudian dipotong dan digelar, sehingga bagian rotor berjalan secara linier bukan lagi berputar. Temuan mahasiswa Indonesia pada 1986 tersebut kini menjadi kereta listrik yang digunakan secara massal di berbagai tempat.
Kebaruan terus berevolusi. Tidak hanya motor linier, teknologi telah mencapai gaya tolak medan listrik yang dikenal sebagai kereta maglev di Jepang dan Tiongkok. Perkembangan terkini berfokus pada keunggulan baterai untuk mobil listrik serta kecepatan pengisian yang ditargetkan setara dengan lama pengisian di SPBU konvensional. Kebaruan mobil listrik yang menuju mobil hidrogen saat ini menjadi titik optimum di bidang energi dan transportasi.
Kompetisi dengan Ekosistem Global
Pertanyaannya, apakah kampus Indonesia akan dipaksa berkompetisi dengan ekosistem yang belum sepenuhnya dimilikinya? Jika kebaruan tertinggi terletak pada medan magnet dan hidrogen, apakah kampus kita akan membuka arena baru di bidang superkonduktor atau inti nuklir? Ini seharusnya menjadi kontemplasi bersama mengenai ke mana sumber daya manusia produk pendidikan tinggi Indonesia akan diarahkan.
Sangat menyedihkan ketika para akademisi seolah diteror dengan diksi kebaruan oleh elite kampus, sementara fakta kebaruan di Indonesia pun masih tertatih-tatih. Di kampus Tiongkok dan Jepang, persoalan kebaruan saat ini bukan menjadi hal mandatori karena ilmu pengetahuan sangat fleksibel. Penelitian dengan tema sama diperbolehkan, tetapi substansinya adalah pendalaman.
Jika dulu baterai mobil listrik menggunakan material dari mineral nikel, mangan, atau kobalt, maka kebaruannya diubah dengan material berbeda seperti litium, besi, atau fosfat.
Kampus-kampus tersebut kompromi dan tetap memberikan nilai bahwa penelitian tersebut berkualitas. Perihal kebaruan perlu dikompromikan juga di kampus Indonesia. Sudah begitu lama keharusan novelty menjadi kewajiban, tetapi dampak di masyarakat tetap saja produk turunan bukan berasal dari Indonesia.
Introspeksi dan Kompromi
Kemajuan media, misalnya, bangsa ini tetap saja bukan kreator melainkan pengguna. Kemajuan media sosial pun demikian, platformnya tetap saja ditemukan bukan dari Indonesia. Tampaknya spirit selalu novelty harus diubah karena ekosistem kampus Indonesia memang belum mampu berada di titik tersebut. Kampus harus introspeksi diri, berada di titik mana dan ke mana memberikan kontribusi untuk kemajuan Indonesia.
Tidak perlu menjadi negara di barisan pertama novelty karena nyatanya memang belum mampu. Tidak perlu menciptakan drone atau rudal presisi, tetapi meneliti komponen drone atau komponen rudal. Kompromi dalam novelty bukan berarti menurunkan kualitas, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan dan potensi yang ada.

