Skip to content
Beritabaru1
fe1b8844-d830-4785-aa70-48971fa106fc-0
  • Home
  • News
  • Sepak Bola
  • Teknologi
  • Internasional
  • Humaniora
  • Politik Dan Hukum
  • Nusantara
  • Hiburan
  • Opini
  • Travelista
  • Ekonomi
  • Megapolitan
  • Kolom Pakar
  • Jelita
  • Olahraga
  • Haji
  • Otomotif
  • Jabar
  • Piala Dunia 2026
  • Kuliner
  • Kesehatan
  • Forum Mahasiswa
  • Fashion
  • Sela
  1. Home
  2. Opini
  3. Ketika Penjara bukan Lagi Jawaban
Opini

Ketika Penjara bukan Lagi Jawaban

Emily Davis - beritabaru1.com Reporter Senin, 11 Mei 2026 pukul 01:39 WIB 3 min read
0 Views 0 Komentar
Share:
1778431870_fe399784b96270c95e60
Foto : Emily Davis - beritabaru1.com
Foto : Emily Davis - beritabaru1.com

Ketika Penjara Bukan Lagi Jawaban

Beritabaru1.com – Dalam konteks Meeting Results, kasus kelebihan kapasitas penjara di Indonesia menunjukkan perubahan paradigma dalam sistem hukum. Film “Ghost in the Cell” (2026) yang disutradarai Joko Anwar menjadi cerminan nyata dari fenomena ini, di mana tahanan korupsi dan biasa terjebak dalam kondisi yang sangat berbeda. Di Lapas Labuhan Angsana, Blok K yang menampung narapidana korupsi dilengkapi fasilitas modern seperti pendingin udara dan lemari es. Namun, seberapapun baik kondisi di sana, para tahanan biasa di Blok lain menghadapi realitas yang lebih berat, dengan tekanan dari sipir dan lingkungan yang sempit serta membebani.

Krisis Overkapasitas: Tantangan Sistem Pemasyarakatan

KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) yang berlaku sejak 1918 tetap berlaku sebagai dasar hukuman yang berprinsip retributif. Meski terdapat penyesuaian di UU No. 1/2023 dan UU No. 20/2025, paradigma ini belum sepenuhnya berubah. Tahun 2026 mencatat peningkatan kepadatan hingga 85% di sejumlah lembaga pemasyarakatan, menurut data yang dirilis Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto. Dalam Meeting Results dari Seminar Nasional Pemasyarakatan pada 6 Mei 2026, ia mengungkapkan bahwa krisis ini bukan lagi fenomena sementara, melainkan bentuk kegagalan sistem hukum dalam merespons kejahatan secara efektif.

β€œIni bukan lagi sekadar krisis overcapacity, ini adalah bukti nyata bahwa ada yang salah dalam sistem hukum dalam merespons kejahatan,” kata Agus Andrianto dalam Meeting Results seminar tersebut.

Kondisi ini semakin memperparah dampak Meeting Results di lapas-lapas seperti Lapas Kutacane, Aceh Tenggara, yang menampung 368 tahanan padahal kapasitasnya hanya 100 orang. Dalam situasi seperti itu, penjara tidak hanya berfungsi sebagai tempat hukuman, tetapi juga menjadi pusat penyebaran subkultur kriminal. Konsep “prisonization” yang diusulkan Donald Clemmer pada 1940 menjelaskan bagaimana tahanan beradaptasi dengan norma-norma kriminal yang dominan, memperkuat sikap kejahatan di kalangan mereka.

Data Narapidana Narkoba: Tantangan di Balik Dinding Lapas

Dari total 278.376 narapidana yang tercatat, 150.202 atau 54% terkait dengan kejahatan narkotika, menurut Badan Narkotika Nasional. Fakta ini mengisyaratkan bahwa lapas tidak hanya menerima pelaku kejahatan, tetapi juga menjadi tempat rekruitan dan pelatihan jaringan peredaran narkoba. Wakil Ketua Komnas HAM Amiruddin Al-Rahab menegaskan bahwa kelebihan kapasitas ini menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk keterbatasan akses ke pendidikan, kesehatan, dan lingkungan yang memperparah kondisi psikologis para tahanan.

Krisis overkapasitas penjara adalah akumulasi dari kebijakan hukum yang berlangsung lebih dari satu abad. UU No. 1/2023 dan UU No. 20/2025, yang diimplementasikan sejak 2 Januari 2026, mencoba mengubah pola pemidanaan dengan memperkenalkan empat tujuan utama: mencegah tindak pidana, memasyarakatkan terpidana melalui pembinaan, menyelesaikan konflik, dan memulihkan keseimbangan sosial. Hal ini mencerminkan upaya Meeting Results untuk memperbaiki sistem hukum, namun tantangan utamanya tetap ada dalam menjalankan implementasi tersebut.

Meski ada Meeting Results perubahan, banyak praktisi hukum mengkhawatirkan keterlambatan dalam penyempurnaan aturan. Implementasi UU No. 20/2025 mengharuskan penahanan hanya untuk tindak pidana dengan ancaman minimal lima tahun, sesuai Pasal 100 KUHAP. Dengan langkah ini, sistem hukum Indonesia berharap bisa mengurangi jumlah tahanan yang tidak perlu dijatuhi hukuman penjara. Namun, keberhasilan Meeting Results ini bergantung pada koordinasi yang lebih baik antara lembaga pemasyarakatan, pemerintah, dan masyarakat.

Kondisi yang dihadapi oleh tahanan korupsi dan biasa memperlihatkan dua sisi dari sistem hukum. Sementara narapidana korupsi bisa menikmati fasilitas yang memadai, tahanan biasa lebih rentan terhadap pengaruh negatif dari lingkungan penjara. Meeting Results dari seminar dan data terkini menunjukkan bahwa krisis ini adalah refleksi dari perluasan konsep hukuman yang tidak lagi terfokus pada pemulihan sosial, melainkan pada hukuman sebagai solusi default. Ini memicu pertanyaan serius tentang efektivitas Meeting Results dalam memperbaiki masalah kemanusiaan di dalam lapas.

Bagikan:

Berita Terkait

fde0e26b-9510-49a2-ac43-1e3257ebabeb-0

Menebas Gurita Patronase: Mengapa Korupsi Indonesia Gagal Diberantas

27 Jul 2026
1784744247_30de7800444454bf27f1

Masih Perlukah Novelty di Kampus?

23 Jul 2026
1784744570_3df14cb425b4ff607da6

Catatan Hari Anak Nasional: Membangun Resiliensi Digital Anak

23 Jul 2026

Komentar

Tinggalkan Komentar Batal

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Field yang wajib diisi ditandai *

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui kebijakan komentar kami.

Terpopuler

Berita Terbaru

0bbcbfd2-9ea7-4ce4-8b2e-22d8070be720-0

Kemenhub Pastikan Evakuasi Penumpang KM Mutiara Sentosa II Berjalan Aman

1 jam yang lalu
9a7cba22-e69e-4c64-ad89-563ed42c2180-0

Perkuat Kerja Sama Program Strategis dalam Pengelolaan Zakat, Pendidikan, hingga Layanan Sosial Kemanusiaan

2 jam yang lalu
69bf6d6b-c264-43da-98c0-e6d75348cfa8-0

Kapal Evakuasi Dikerahkan untuk Selamatkan Penumpang KMP Mutiara Sentosa 2 yang Terbakar

2 jam yang lalu
c80c8814-0d90-4730-9d00-9d2454df5536-0

Masjid Berpotensi Jadi Penggerak Transisi Energi Bersih melalui Wakaf Hijau

2 jam yang lalu
92952c96-d344-4970-961c-4ac81d8d5d78-0

Dinkes Mimika Perluas Skrining HIV-AIDS dan Akses Obat ARV

2 jam yang lalu

Kategori

  • Ekonomi (466)
  • Fashion (5)
  • Forum Mahasiswa (2)
  • Haji (28)
  • Hiburan (268)
  • Humaniora (824)
  • Internasional (429)
  • Jabar (81)
  • Jelita (19)
  • Kesehatan (7)
  • Kolom Pakar (5)
  • Kuliner (20)
  • Megapolitan (168)
  • Nusantara (568)
  • Olahraga (193)
  • Opini (73)
  • Otomotif (29)
  • Piala Dunia 2026 (264)
  • Politik Dan Hukum (252)
  • Sela (1)
  • Sepak Bola (484)
  • Teknologi (240)
  • Travelista (41)
  • Uncategorized (1)

About Us

Beritabaru1 menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.

Trending Post

  • Hello world!
  • Kemenhub Pastikan Evakuasi Penumpang KM Mutiara Sentosa II Berjalan Aman
  • Preview Ligue 1 Rennes vs Paris FC, Ambisi Tuan Rumah di Roazhon Park
  • Misi Psyche NASA Abadikan Foto Langka Mars Berbentuk Bulan Sabit
  • Preview Ligue 1 PSG vs Brest, Misi Wajib Menang untuk Les Parisiens

Quick Links

  • Ekonomi
  • Fashion
  • Forum Mahasiswa
  • Haji
  • Hiburan
  • Humaniora
  • Internasional
  • Jabar
  • Jelita
  • Kesehatan

Contact Us

Ready to get started? Contact us today!

  • Contact Us

Copyright © 2026 beritabaru1.com. All rights reserved.