Main Agenda: Bareskrim Sarankan Basis Data Wajah Anak untuk Cegah Eksploitasi Seksual Online
Beritabaru1.com – Sebagai bagian dari prioritas utama Bareskrim Polri, penggunaan basis data wajah anak dianggap sebagai langkah strategis untuk menghadapi ancaman eksploitasi seksual di dunia maya. Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA-PPO) Bareskrim memperkenalkan sistem ini sebagai upaya mendukung identifikasi cepat dan penyelamatan korban, terutama dalam kasus kejahatan digital yang melibatkan anak-anak. Dengan memanfaatkan teknologi pengenalan wajah, kepolisian diharapkan dapat mengoptimalkan respons terhadap laporan kejahatan, yang semakin meningkat seiring berkembangnya akses internet.
Kebutuhan Data yang Lebih Komprehensif
Kepala Subbagian Pembinaan Operasional Direktorat PPA-PPO Bareskrim Polri, AKBP Ema Rahmawati, menjelaskan bahwa kurangnya data identitas anak menjadi hambatan signifikan dalam penanganan kasus kejahatan digital. “Kami sering menerima laporan yang hanya menyertakan foto atau video korban, tanpa informasi lengkap seperti nama, alamat, atau nomor kontak,” ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Senin (13/7/2026). Ia menegaskan bahwa sistem basis data wajah anak akan menjadi pilar penting dalam mempercepat investigasi, terutama karena kejahatan seksual online sering kali melibatkan berbagai tingkat pelaku, mulai dari individu hingga jaringan.
“Dengan data wajah yang terintegrasi, kami bisa langsung mengolah informasi dan memulai tindakan penyelamatan secara lebih efisien. Ini sangat krusial karena banyak korban mengalami trauma dan membutuhkan intervensi segera,” tambah Ema.
Kurangnya data juga menyulitkan pihak kepolisian untuk memahami pola pelaku dan menindaklanjuti laporan dengan tepat. Menurut Ema, sistem seperti ini akan memperkuat kapasitas pemerintah dalam melindungi anak di usia dini, terutama dalam menghadapi pelaku yang mengincar korban secara digital. “Main Agenda kami adalah menciptakan sistem yang bisa digunakan secara luas, baik oleh lembaga kepolisian maupun instansi terkait,” jelasnya.
Implementasi dan Kemitraan Strategis
Ema menekankan bahwa implementasi basis data wajah anak tidak bisa dilakukan secara mandiri. Ia mengusulkan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti platform digital, penyedia layanan internet, dan organisasi perlindungan anak. “Main Agenda kami adalah membangun koordinasi yang lebih erat, sehingga data bisa terintegrasi dan diakses secara real-time,” terang Ema. Ia juga menyebutkan bahwa sistem ini akan dilengkapi dengan mekanisme pelaporan yang lebih mudah, baik melalui aplikasi maupun website khusus.
“Dengan menggandeng pemangku kepentingan, kita bisa meningkatkan efektivitas sistem ini. Selain itu, data wajah akan memudahkan proses pelacakan pelaku, termasuk menentukan lokasi korban dan mengungkap jejak digital mereka,” ujarnya.
Penggunaan teknologi pengenalan wajah dalam basis data diharapkan dapat memberikan efek domino dalam mengurangi jumlah anak yang menjadi korban eksploitasi seksual. Ema menyatakan bahwa sistem ini akan digunakan sebagai komplementer dari peraturan yang sudah ada, seperti UU Perlindungan Anak dan peraturan kepolisian terkait tindak pidana digital. “Main Agenda kita adalah menciptakan lingkungan digital yang aman untuk anak-anak Indonesia,” pungkasnya.
Sejalan dengan inisiatif tersebut, Bareskrim juga mengupas tantangan yang dihadapi dalam membangun basis data. Salah satu isu utama adalah ketersediaan data yang lengkap dan akurat, terutama karena banyak orang tua atau pelaku tidak menyimpan informasi detail tentang anak mereka. Selain itu, adanya masalah privasi dan keamanan data juga perlu diperhatikan untuk memastikan sistem ini tidak menimbulkan risiko baru.
Dalam rangka mewujudkan Main Agenda Bareskrim, langkah-langkah pemerintah perlu dilakukan secara bertahap. Mulai dari memperluas sistem pengenalan wajah ke berbagai platform digital, hingga melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya data identitas anak. “Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang, bukan solusi instan,” ujar Ema. Ia optimis bahwa dengan adanya basis data wajah, kepolisian akan lebih siap menghadapi ancaman kejahatan seksual online di masa depan.
