Erick Thohir Apresiasi Langkah FIFA Jual Hak Komersial Piala Dunia
Beritabaru1.com – Presiden FIFA Gianni Infantino tengah menyiapkan pembentukan entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Perusahaan anak ini akan bertanggung jawab atas pengelolaan hak siar, sponsor, tiket, serta lisensi dari berbagai turnamen yang diselenggarakan FIFA, termasuk ajang Piala Dunia. Melalui mekanisme tersebut, FIFA berencana menjual sebagian kepemilikan saham kepada investor swasta guna menarik sumber pendanaan segar.
Nilai estimasi untuk FFE mencapai angka 20 miliar dolar AS atau setara dengan Rp360 triliun. Jika proposal ini mendapat persetujuan, setiap dari 211 asosiasi anggota FIFA akan menerima alokasi dana sebesar 20 juta dolar AS atau Rp360 miliar untuk mendukung pengembangan sepak bola di negaranya masing-masing.
Dukungan Penuh dari Erick Thohir
Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, secara tegas menyatakan dukungannya terhadap rencana penjualan hak komersialisasi Piala Dunia tersebut. Langkah ini ia lihat sebagai peluang besar yang sejalan dengan kontribusi signifikan FIFA terhadap kemajuan sepak bola Indonesia, khususnya pasca tragedi Kanjuruhan.
Erick menekankan bahwa perkembangan sepak bola nasional tidak bisa dilepaskan dari sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan FIFA. Ia menilai Indonesia perlu menyampaikan rasa terima kasih kepada organisasi sepak bola dunia karena telah membantu menjaga keberlangsungan olahraga tersebut di masa-masa sulit.
“Sepak bola kita hari itu bisa meraih banyak prestasi seperti sekarang karena masyarakat, pemerintah, dan FIFA hadir bersama-sama. Kita harus berterima kasih, terutama kepada FIFA,” kata Erick kepada pewarta di Gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta pada Jumat (31/7).
Pentingnya Kesepakatan dengan FIFA
Erick mengingatkan bahwa Indonesia sempat berisiko menghadapi sanksi berat setelah tragedi Kanjuruhan jika tidak berhasil membangun kesepahaman dengan FIFA. Menurutnya, dukungan dari pemerintah dan masyarakat serta komunikasi yang baik menjadi kunci agar sepak bola Indonesia tetap berjalan lancar.
“Kalau tidak ada kesepakatan saat itu, hari itu kita mungkin tidak memiliki tim nasional maupun kompetisi sepak bola seperti sekarang,” ujarnya.
Selain itu, Erick menyoroti komitmen serius FIFA dalam membantu pengembangan sepak bola Indonesia. Salah satu wujudnya adalah pembukaan kantor FIFA di Indonesia serta investasi rutin untuk berbagai program pengembangan setiap tahunnya.
“Terbukti sekarang sudah ada kantor FIFA di Indonesia. FIFA juga berinvestasi melalui sekitar 13 hingga 15 kegiatan setiap tahun dengan dana sekitar 1 sampai 2 juta dolar AS yang langsung mereka salurkan,” ucap Erick.
Reaksi dan Tantangan
Rencana pembentukan FFE ini memicu respons beragam di kalangan anggota FIFA. Beberapa pihak, termasuk UEFA, mengkritik langkah tersebut karena dianggap berpotensi mengurangi independensi FIFA dan membuka ruang bagi pengaruh investor terhadap sepak bola global.
Namun, Erick menilai skema ini dapat memberikan manfaat bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk mendapatkan tambahan pendanaan guna mempercepat pembangunan sepak bola nasional.
“Sepak bola Indonesia telah mengalami transformasi dalam tiga tahun terakhir. Sepak bola kita sudah dibersihkan. Peringkat tim nasional naik dari posisi 174 ke 118. Untuk melanjutkan transformasi itu, kami membutuhkan pendanaan,” kata Erick seperti dikutip Sky News.
Ia juga menegaskan bahwa komersialisasi bukanlah hal baru dalam dunia sepak bola karena telah diterapkan oleh sejumlah asosiasi anggota FIFA dalam pengelolaan kompetisi domestik. Menurutnya, jika anggota FIFA menyetujuinya, itu menunjukkan adanya kebutuhan agar kesepakatan tersebut terlaksana.
Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) belum menyatakan sikap resmi mengenai pembentukan FFE. AFC meminta FIFA memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kajian menyeluruh, termasuk aspek hukum, tata kelola, konsultasi, dan dampak jangka panjang sebelum keputusan akhir diambil.

