Trump Boyong 17 Bos Korporasi Raksasa AS dalam Kunjungan Krusial ke Beijing
Main Agenda – Kunjungan presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke Tiongkok pekan ini diisi oleh sejumlah tokoh bisnis elite yang mewakili industri utama. Langkah ini dilakukan di tengah tekanan yang meningkat terkait isu ekonomi dan teknologi antara dua negara besar. Seorang sumber dari Gedung Putih mengonfirmasi bahwa 17 eksekutif senior akan menyertai Trump dalam perjalanan tersebut.
Delegasi Beragam Sektor
Anggota delegasi mencakup perwakilan dari berbagai bidang seperti teknologi, keuangan, dan bioteknologi. Nama-nama besar seperti Tim Cook (Apple), Elon Musk (Tesla & SpaceX), serta Larry Fink (BlackRock) termasuk dalam daftar. Sementara itu, CEO Cisco Chuck Robbins tidak ikut karena jadwal pelaporan laba perusahaan.
“Kami berharap perjalanan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan dan membentuk masa depan pengobatan presisi,” kata juru bicara Illumina, perusahaan bioteknologi California, yang menyebut CEO mereka, Jacob Thaysen, merasa terhormat menjadi bagian dari delegasi.
Kunjungan ini dianggap sebagai ujian penting bagi kesepakatan dagang yang sebelumnya sempat mencapai puncak perang tarif. Kedua negara sempat melibatkan tarif hingga 100% sebelum perundingan antara Trump dan Xi Jinping di Korea Selatan menghasilkan pencairan pada Oktober 2025.
Selain perundingan ekonomi, isu konflik Timur Tengah menjadi agenda utama. Perang antara AS-Israel dan Iran sempat mengganggu jadwal pertemuan pemimpin kedua negara. Trump diperkirakan akan menekan Tiongkok untuk mendukung mediasi antara Tehran dan Washington, agar konflik segera berakhir.
Tiongkok, yang bergantung pada pasokan minyak murah dari Iran, memiliki kepentingan besar agar situasi stabil. Meski negara itu hingga kini masih mampu bertahan dari dampak perang berkat cadangan bahan bakar yang melimpah, gangguan pasokan energi telah mengurangi daya beli global. Hal ini berpotensi menghambat ekspor barang Tiongkok ke pasar internasional. Kunjungan Trump diharapkan menjadi titik balik bagi pemulihan stabilitas ekonomi dunia.
