LRT Jakarta Diwacanakan Tembus PIK 2 dan Bandara Soetta
Latest Program – Dalam rangka memperkuat sistem transportasi umum di Jakarta, “Latest Program” yang diusung oleh Pemprov DKI Jakarta menarik perhatian publik dengan rencana perluasan jalur LRT (Light Rail Transit) ke area strategis seperti PIK 2 (Pusat Pelayanan Kesehatan 2) dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa proyek ini menjadi bagian dari upaya menyelaraskan infrastruktur kota dengan kebutuhan mobilitas masyarakat. Pernyataan ini disampaikannya saat meresmikan klenteng Tian Fu Gong di PIK, Jakarta Utara, pada Minggu (17 Mei 2026).
Konsep “Latest Program” ini mengintegrasikan berbagai aspek pembangunan transportasi, termasuk pengembangan jalur LRT yang saat ini telah mencakup Ancol. Pramono Anung menyebut bahwa komunikasi awal dengan pihak swasta sudah berjalan untuk mewujudkan aksesibilitas lebih luas.
“Saya sudah bicara dengan CEO Agung Sedayu, mungkin saatnya untuk memperluas LRT dari Velodrome ke PIK 2,” kata Pramono Anung.
Proyek ini tidak hanya memperpanjang jalur fisik, tetapi juga menciptakan jaringan transportasi yang lebih efisien untuk mengurangi kemacetan di kawasan utara Jakarta.
Strategi Konektivitas Wilayah Utara Ibu Kota
Perluasan LRT ke PIK 2 dan Bandara Soetta dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan konektivitas antar kawasan. “Kami sedang fokus pada pengembangan infrastruktur transportasi massal di daerah utara,” jelas Pramono. Rencana ini sejalan dengan visi Pemprov DKI Jakarta dalam mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum, terutama di sekitar kawasan perkotaan yang padat.
Proyek sambungan Velodrome-Manggarai yang sedang berlangsung berpotensi selesai pada Agustus 2026. Setelah tahap tersebut, perhatian akan bergeser ke Jakarta Utara, melewati titik-titik kritis seperti Tanjung Priok dan Jakarta International Stadium (JIS). Menurut Pramono, jalur lanjutan dari Ancol ke PIK 2 hingga terhubung ke Bandara Soetta masih memerlukan persiapan ekstra, termasuk koordinasi dengan berbagai stakeholder. “Latest Program” ini diharapkan menjadi bagian dari transformasi transportasi yang menyeluruh, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Target Konektivitas 100 Persen
Saat ini, konektivitas transportasi massal di Jakarta hanya mencapai 93 persen. Pemprov DKI berkomitmen untuk menyelesaikan jalur yang belum terhubung, guna mencapai sistem transportasi yang lengkap. “Latest Program” menjadi alat untuk mengisi celah tersebut, termasuk pengembangan jalur LRT yang akan terhubung dengan layanan lain seperti bus dan angkutan umum lainnya. Pramono menekankan bahwa integrasi antarmoda ini akan meningkatkan kenyamanan pengguna, mempercepat akses ke berbagai destinasi, dan meminimalkan penumpukan kendaraan di jalur utama.
Pembangunan jalur LRT ke Bandara Soetta dan PIK 2 diperkirakan akan selesai dalam beberapa tahun ke depan. Proyek ini diharapkan menjadi salah satu dari banyak inisiatif yang termasuk dalam “Latest Program” untuk mendorong pengurangan kemacetan dan emisi karbon di kawasan perkotaan. Dengan menyatukan kebutuhan transportasi masyarakat dan arah pembangunan infrastruktur, “Latest Program” ini bertujuan menciptakan kota Jakarta yang lebih terjangkau dan berkelanjutan. Selain itu, jalur LRT yang lebih panjang akan membuka peluang bagi pengembangan ekonomi dan kawasan baru di utara kota.
Koordinasi dengan Pihak Swasta dan Pemerintah Pusat
Pemprov DKI Jakarta telah menggandeng pihak swasta untuk mewujudkan “Latest Program” ini. Salah satu perusahaan yang terlibat adalah Agung Sedayu, yang didatangkan untuk diskusi tentang perluasan jalur LRT. Koordinasi dengan pemerintah pusat juga diperlukan, terutama untuk menyelesaikan aspek administratif dan finansial. Pramono menyebut bahwa dukungan dari berbagai pihak adalah kunci keberhasilan proyek ini.
Proyek LRT ke PIK 2 dan Bandara Soetta juga diharapkan menjadi contoh pengembangan infrastruktur transportasi yang berkelanjutan. Dengan menyediakan jalur massal yang lebih luas, “Latest Program” ini akan meningkatkan efisiensi perjalanan, mengurangi waktu tempuh, dan menekan biaya operasional. Selain itu, pengembangan ini sejalan dengan upaya Pemprov DKI Jakarta untuk menciptakan jaringan transportasi yang lebih merata, terutama di area yang belum terlayani dengan baik.
