Jakarta Mengeksplorasi Kerja Sama dengan San Siro untuk Pengembangan JIS
Topics Covered: Pemerintah DKI Jakarta sedang berupaya meningkatkan manajemen dan fungsi Jakarta International Stadium (JIS) dengan mengeksplorasi kemungkinan kerja sama dengan San Siro, salah satu stadion sepak bola legendaris di Milan, Italia. Tujuan utama kolaborasi ini adalah memperkaya tata kelola JIS sebagai infrastruktur pusat acara internasional dan memperkuat peran stadion tersebut dalam meningkatkan ekonomi kreatif serta citra Jakarta sebagai destinasi olahraga global. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengungkapkan bahwa studi banding dengan San Siro akan membuka wawasan baru untuk memastikan JIS bisa menjadi ruang multifungsi yang mampu menarik minat publik secara luas.
Sejarah dan Konsep San Siro sebagai Stadion Multifungsi
San Siro, yang berdiri sejak tahun 1925, telah menjadi simbol keunggulan pengelolaan stadion di Eropa. Selain sebagai tempat pertandingan sepak bola, stadion ini juga berperan dalam berbagai acara budaya, konser, dan pertunjukan hiburan. Pengalaman San Siro dalam menggabungkan kegiatan olahraga dengan pengembangan ekonomi kreatif menjadi salah satu topik utama yang ingin diadopsi oleh Jakarta. Menurut Rano, JIS memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ruang sejarah dan nilai emosional bagi masyarakat, seperti halnya San Siro.
“Kita ingin menggali bagaimana sebuah stadion bisa hidup dalam konteks sejarah, bisnis, hiburan, dan menjadi kebanggaan kota. JIS punya potensi besar untuk berkembang ke arah sana,” kata Rano dalam pernyataan resmi usai kunjungan ke Milan, Kamis.
Kerja sama ini mencakup diskusi tentang manajemen modern, strategi pengembangan acara besar, serta pemanfaatan teknologi untuk memperpanjang usia dan daya tarik JIS. Rano menjelaskan bahwa Jakarta ingin mengadopsi model San Siro yang tidak hanya fokus pada pertandingan sepak bola, tetapi juga memperluas ruang untuk inovasi dan kerja sama internasional. Dalam pertemuan di Milan, Rano dan tim delegasi berdiskusi tentang peran keterlibatan masyarakat, pemanfaatan ruang publik, dan integrasi dengan sektor pariwisata.
Peluang Ekonomi dan Pariwisata Olahraga
Pengembangan JIS diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif melalui event internasional, seperti pertandingan sepak bola dan konser. Rano Karno menyebutkan bahwa kerja sama dengan San Siro akan membantu Jakarta mengeksplorasi berbagai potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan pengalaman San Siro, Jakarta dapat merancang JIS sebagai pusat aktivitas yang berkelanjutan, baik dalam konteks olahraga maupun budaya.
Salah satu contoh nyata dari kerja sama ini adalah rencana AC Milan datang ke Jakarta pada 8 Agustus 2026 untuk menghadapi Chelsea FC dalam laga pramusim di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa JIS memiliki daya tarik untuk menarik perhatian tim-tim besar dunia. Rano menilai ini adalah langkah penting dalam mengukuhkan Jakarta sebagai kota yang siap menyelenggarakan acara kelas dunia.
Menurut Fabrizio Caruso, General Manager San Siro, kolaborasi ini akan menjadi peluang bagus untuk saling berbagi pengalaman. “San Siro bisa menjadi referensi dalam hal pengelolaan yang efisien dan strategi pemasaran. Kami berharap Jakarta dapat mengintegrasikan berbagai aspek seperti manajemen teknis, pengaturan ruang, dan kepuasan penggemar,” ujarnya dalam wawancara usai pertemuan dengan Rano.
Langkah-Langkah Implementasi Kerja Sama
Kerja sama antara Jakarta dan San Siro akan dilakukan secara bertahap, mulai dari studi banding hingga penerapan model manajemen yang relevan. Dalam kunjungan ke Milan, Selasa (12 Mei), Rano dan tim menghadiri berbagai pertemuan untuk mempelajari praktik terbaik pengelolaan stadion. Beberapa topik yang dibahas mencakup penggunaan teknologi pemeliharaan, pengelolaan acara besar, dan pengembangan sistem ticketing yang bisa memaksimalkan pengunjung.
Rano Karno menekankan bahwa tata kelola JIS harus disesuaikan dengan dinamika kota modern. “Kita perlu menggabungkan inovasi teknologi dengan nilai sejarah, sehingga JIS bisa menjadi tempat yang dinamis dan menarik bagi semua kalangan,” jelasnya. Pemimpin delegasi mengatakan bahwa keberhasilan kerja sama ini akan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga yang inklusif dan berkelanjutan.
Kerja sama ini juga diharapkan meningkatkan keterlibatan warga Jakarta dalam kegiatan olahraga. Dengan model San Siro, JIS bisa menjadi ruang yang lebih bermakna, tidak hanya sebagai tempat pertandingan, tetapi juga sebagai pusat komunitas dan pengalaman unik. Rano menyatakan bahwa JIS akan menjadi bagian dari strategi pengembangan kota yang lebih holistik, dengan fokus pada pertumbuhan ekonomi, budaya, dan pariwisata.
Dalam konteks ekonomi, JIS diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal, meningkatkan pendapatan dari aktivitas wisata, dan menarik investasi dari sektor swasta. Selain itu, pengelolaan JIS yang baik juga bisa menjadi magnet bagi penggemar olahraga dari luar negeri, sehingga mendorong pertumbuhan industri hiburan di Jakarta. Model San Siro, yang memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola event internasional, menjadi acuan penting untuk memperkuat JIS sebagai infrastruktur utama.
Kerja sama ini juga mencakup pertukaran ide tentang bagaimana sebuah stadion bisa menjadi landmark yang mampu menarik minat publik. Rano Karno menyebutkan bahwa dengan model ini, Jakarta bisa mengeksplorasi berbagai potensi yang belum dimanfaatkan, baik dalam konteks olahraga maupun kebudayaan. “Topics Covered-nya tidak hanya tentang pertandingan sepak bola, tetapi juga bagaimana JIS bisa menjadi pusat kehidupan komunitas dan ekonomi kreatif,” tegasnya.
Dengan mendorong tata kelola yang lebih matang, JIS diperkirakan akan menjadi salah satu stadiun terbaik di Asia dalam beberapa tahun ke depan. Rano Karno yakin, kolaborasi ini akan membuka peluang baru bagi Jakarta untuk menjadi tuan rumah acara internasional dengan kualitas dan daya tarik yang luar biasa. “Kita harus terus belajar dan beradaptasi, agar JIS bisa menjadi bagian dari visioner Jakarta yang modern dan inovatif,” pungkasnya.
