Kiai Dahlan dan Wajah Keberagamaan Kita Beritabaru1.com – Indonesia saat ini mengalami masa di mana ekspresi keagamaan terasa sangat hidup.
Kiai Dahlan dan Wajah Keberagamaan Kita
Beritabaru1.com – Indonesia saat ini mengalami masa di mana ekspresi keagamaan terasa sangat hidup. Simbol-simbol keislaman memenuhi ruang publik, ritual-ritual keagamaan semakin meriah, dan identitas keagamaan ditegaskan dalam berbagai dimensi kehidupan. Namun, di balik keramaian itu, terdapat sebuah ironi yang patut dicermati. Masyarakat yang tampak semakin religius justru dihadapkan pada berbagai masalah moral, mulai dari korupsi, ketidakadilan, hingga kriminalitas. Tidak sedikit pula tokoh agama yang terjerumus dalam kecintaan terhadap kekuasaan, harta, dan perilaku cabul. Kondisi ini mengindikasikan bahwa praktik keberagamaan kita masih bersifat dangkal.
Agama sering hadir sebagai simbol identitas yang dikenakan, namun belum menjadi nilai yang dihayati secara mendalam. Kata-kata keagamaan terdengar ramai, tetapi belum tercermin dalam tindakan nyata. Ketika agama belum melahirkan integritas, empati, dan moralitas, maka yang menguat bukanlah substansi agama itu sendiri. Tantangan utama kita sekarang adalah bagaimana membuat agama semakin bermakna dan melampaui sekadar formalitas belaka.
Religiositas Ekstrinsik dan Intrinsik
Gordon Allport menawarkan pembedaan penting antara religiositas ekstrinsik dan intrinsik sebagai dua orientasi dasar dalam pengalaman keberagamaan. Religiositas ekstrinsik merujuk pada bentuk keberagamaan yang bersifat instrumental. Dalam orientasi ini, agama diposisikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan lain, seperti status sosial, rasa aman psikologis, legitimasi politik, atau pengakuan dari kelompok tertentu. Agama dalam konteks ini bekerja sebagai alat yang fungsional, sehingga nilai-nilai transendennya rentan direduksi menjadi mekanisme pragmatis yang mengikuti kepentingan eksternal subjek.
Sebaliknya, religiositas intrinsik menunjukkan proses internalisasi agama secara menyeluruh dalam struktur kesadaran dan orientasi hidup individu. Agama menjadi prinsip yang mengarahkan seluruh cara berpikir, merasa, dan bertindak. Pembedaan ini membantu menjelaskan paradoks yang sering muncul dalam kehidupan sosial. Seseorang dapat terlihat sangat religius secara formal, tetapi perilaku sosialnya tidak mencerminkan nilai-nilai agama yang diklaimnya. Dalam situasi seperti itu, agama lebih berfungsi sebagai ‘baju’ ekstrinsik daripada sebagai kekuatan transformasi intrinsik. Keberagamaan menjadi tampak di permukaan, tetapi tidak cukup meresap ke dalam struktur kesadaran dan karakter sehari-hari.
Ultimate Concern dalam Perspektif Tillich
Dalam kerangka pemikiran Paul Tillich, hakikat agama tidak dapat direduksi semata pada ritual, institusi, ataupun sistem doktrinal. Agama menunjuk pada dimensi terdalam dari eksistensi manusia, yakni apa yang menjadi perhatian tertinggi (the ultimate concern) yang secara total mengikat orientasi hidup seseorang. Setiap manusia selalu digerakkan suatu pusat makna yang ia anggap paling menentukan, paling bernilai absolut, dan karena itu, layak diperjuangkan bahkan melampaui semua kepentingan lainnya.
Masalahnya bukan terletak pada ada atau tidaknya ultimate concern, melainkan pada apa yang mengisi posisi tersebut dalam struktur kesadaran kita. Apakah yang menempati posisi itu ialah nilai transenden yang membebaskan dan memanusiakan, atau justru sesuatu yang imanen tetapi dipertuhankan secara keliru sehingga membentuk orientasi hidup yang terdistorsi. Dalam kehidupan modern, posisi ultimate concern itu sering ditempati hal-hal yang bersifat duniawi seperti kekuasaan, uang, popularitas, jabatan, atau pencitraan diri. Ketika sesuatu yang terbatas diperlakukan sebagai tujuan tertinggi kehidupan, manusia sesungguhnya sedang membangun bentuk baru dari penyembahan ‘berhala’. Karena itu, bagi Tillich, agama yang autentik ialah ketika orientasi terdalam manusia tertuju kepada Yang Absolut dan dari sanalah seluruh tindakan memperoleh arah dan makna.
Tauhid dan Orientasi Eksistensial
Dalam Islam, persoalan paling mendasar bukan sekadar pengakuan verbal terhadap keberadaan Tuhan, melainkan apakah Tuhan benar-benar menjadi pusat orientasi hidup manusia. Makna terdalam tauhid berupa revolusi kesadaran yang menempatkan Allah sebagai pusat makna, nilai, dan tujuan kehidupan. Tauhid terkait dengan persoalan orientasi eksistensial. Mereka yang bertauhid meyakini hanya Tuhan sebagai satu-satunya pencipta, sementara selain Tuhan ialah hasil ciptaan-Nya.
Manusia tidak berhak merendahkan sesama makhluk karena semua setara di hadapan Tuhan, tidak boleh ada eksploitasi dan kezaliman. Manusia bertauhid tidak akan berlagak rendah diri atau tinggi hati. Mereka menyadari tugas dan peran mereka di dunia sebagai hamba Tuhan dan khalifah yang memakmurkan bumi. Pemahaman tauhid yang demikian mendalam menemukan artikulasi praksis dalam pembacaan Kiai Dahlan terhadap surah Al-Ma’un. Berbeda dari pemahaman yang membatasi surah tersebut sebagai anjuran untuk berderma kepada fakir miskin, Kiai Dahlan melihat makna yang lebih luas. Surah ini mengajarkan agar kita tidak hanya peduli pada kebutuhan material orang lain, tetapi juga memastikan bahwa ibadah kita tidak terputus oleh kepentingan duniawi. Ibadah yang sejati adalah yang tidak terpengaruh oleh kepentingan pribadi maupun sosial.
Related SEO Topics
- Home
- Artikel terkait Kiai Dahlan dan Wajah Keberagamaan Kita
- Bandingkan Perang Iran dan Konflik Lampau, Trump Soroti Angka Kematian Prajurit AS
- Sekolah Nasional Terintegrasi: Dari Pemerataan Menuju Keunggulan
- Politikus Inggris Ann Widdecombe Dipukul Palu 21 Kali di Rumahnya, Pelaku Didakwa Pembunuhan
- Tom Bischof Warisi Nomor Punggung 8 Leon Goretzka di Bayern Muenchen
Frequently Asked Questions
Apa itu Kiai Dahlan dan Wajah Keberagamaan Kita?
Kiai Dahlan dan Wajah Keberagamaan Kita adalah topik utama yang dibahas di artikel ini dengan konteks praktis agar pembaca memahami informasinya dengan jelas.
Mengapa Kiai Dahlan dan Wajah Keberagamaan Kita penting?
Kiai Dahlan dan Wajah Keberagamaan Kita penting karena membantu pembaca membandingkan pilihan, menghindari kesalahan umum, dan mengambil keputusan yang lebih tepat.
Bagaimana cara memakai panduan Kiai Dahlan dan Wajah Keberagamaan Kita ini?
Gunakan poin utama, contoh, dan tautan terkait di halaman ini sebagai rujukan awal, lalu cek detail terbaru sebelum mengambil keputusan final.

