Skip to content
Beritabaru1
fe1b8844-d830-4785-aa70-48971fa106fc-0
  • Home
  • News
  • Sepak Bola
  • Teknologi
  • Internasional
  • Humaniora
  • Politik Dan Hukum
  • Nusantara
  • Hiburan
  • Opini
  • Travelista
  • Ekonomi
  • Megapolitan
  • Kolom Pakar
  • Jelita
  • Olahraga
  • Haji
  • Otomotif
  • Jabar
  • Piala Dunia 2026
  • Kuliner
  • Kesehatan
  • Forum Mahasiswa
  • Fashion
  • Sela
  1. Home
  2. Opini
  3. Penolakan Program Titian Kemenkes oleh Perguruan Tinggi
Opini

Penolakan Program Titian Kemenkes oleh Perguruan Tinggi

Emily Davis - beritabaru1.com Reporter Kamis, 09 Juli 2026 pukul 06:27 WIB 3 min read
0 Views 0 Komentar
Share:
1783541340_99c9b1f5a843b97cf7e3
Foto : Emily Davis - beritabaru1.com
Foto : Emily Davis - beritabaru1.com

Penolakan Program Titian Kemenkes oleh Perguruan Tinggi

Beritabaru1.com – Yang diusung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memperkuat layanan kesehatan mental di tingkat dasar telah memicu reaksi dari berbagai perguruan tinggi penyelenggara pendidikan psikologi. Program ini bertujuan mempercepat akses layanan psikologis bagi masyarakat luas, terutama di fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas. Namun, keberatan dari institusi akademik menunjukkan adanya perdebatan mengenai standar dan kualitas pemenuhan tenaga psikolog yang dihasilkan melalui mekanisme titian. Konsep ini menjadi sorotan karena berpotensi mengubah paradigma pendidikan profesi psikologi di Indonesia.

Perspektif Perguruan Tinggi terhadap Program Titian

Dalam surat resmi yang ditandatangani oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI), lebih dari 174 lembaga pendidikan tinggi menyatakan penolakan terhadap program titian profesi psikolog klinis. Mereka mengkhawatirkan penggunaan istilah “psikologi klinis” yang terlalu luas, sehingga mengaburkan perbedaan antara pendidikan dasar dan pendidikan spesialis. Selain itu, kebijakan ini dinilai merugikan jenjang pendidikan serta penjaminan mutu psikolog. Sebanyak 26 perguruan tinggi lainnya juga mengirimkan surat penolakan secara mandiri, menunjukkan perhatian serius terhadap upaya peningkatan layanan kesehatan mental.

Surat tanggapan kolektif AP2TPI tertanggal 15 Juni 2026 menegaskan bahwa penolakan ini tidak sekadar soal administratif, tetapi juga terkait etika dan standar pengelolaan profesi psikologi. Perguruan tinggi berargumen bahwa program titian berpotensi mengurangi kepercayaan publik terhadap kompetensi tenaga psikolog, karena mengabaikan sistem pendidikan formal dan penjaminan kualitas yang seharusnya diterapkan.

Kendala dalam Implementasi Latest Program

Kritik terutama ditujukan pada penempatan istilah “psikologi klinis” sebagai label tunggal untuk semua layanan psikologi di sektor kesehatan. Hal ini dianggap menyebabkan standar ganda, karena psikolog klinis adalah jabatan profesi yang memiliki kewenangan spesifik, bukan sekadar gelar akademik yang bisa diperoleh melalui pelatihan tambahan. Selain itu, program titian dianggap mengabaikan kebutuhan untuk menjaga kesesuaian kompetensi dan jenjang pendidikan psikolog. Fakta bahwa penolakan ini dilakukan oleh sejumlah besar perguruan tinggi menunjukkan perspektif akademik yang mendalam mengenai konsekuensi jangka panjang.

Apakah program titian akan mengabaikan sistem pendidikan yang telah terbukti? Perguruan tinggi mengkhawatirkan bahwa dengan pendekatan ini, kualitas pelayanan psikologis akan dipertanyakan, karena dianggap menggunakan jalur cepat tanpa memastikan standar kompetensi yang terukur. Kesalahan lainnya adalah penempatan kewenangan pengelolaan profesi psikologi di luar sistem pendidikan tinggi, yang seharusnya menjadi penjamin utama.

Upaya Memperbaiki Konsep Latest Program

Sebagai respon, Kemenkes perlu memperjelas visi program titian agar tidak dianggap sebagai pengganti pendidikan formal. Banyak pendidik psikologi menekankan bahwa psikologi klinis adalah jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sementara layanan di puskesmas bisa diberikan oleh tenaga psikolog dengan latar belakang pendidikan dasar. Dengan demikian, program ini bisa diadopsi sebagai pelengkap, bukan pengganti, untuk memperluas akses layanan kesehatan mental tanpa mengabaikan jenjang akademik.

Sebagai contoh, program titian bisa digunakan untuk melatih psikolog di tingkat dasar agar mampu memberikan layanan dasar, seperti konseling awal dan pendeteksian masalah psikologis. Namun, untuk layanan spesialis seperti psikologi klinis, kompetensi tetap harus dihasilkan melalui pendidikan formal yang terstandar. Dengan pendekatan ini, kemenkes bisa memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengorbankan kualitas.

Perspektif Masyarakat dan Pemangku Kepentingan

Penolakan dari perguruan tinggi juga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas program titian dalam jangka panjang. Apakah masyarakat akan lebih terbantu dengan tenaga psikolog yang lebih banyak, atau justru merasa layanan psikologis menjadi lebih murahan? Selain itu, perlu dipertimbangkan kolaborasi antara kemenkes dan perguruan tinggi untuk memastikan program ini tidak terlalu mempercepat proses tanpa menjaga standar kualitas. Masyarakat, apalagi yang mengalami masalah kesehatan mental, harus mendapatkan bantuan yang aman, terukur, dan berkelanjutan.

Kendati demikian, program titian tetap memiliki potensi dalam menjangkau lebih banyak orang, terutama di daerah terpencil. Dengan pelatihan tambahan yang diselenggarakan oleh pusat pelatihan kesehatan mental, masyarakat bisa lebih mudah mengakses layanan psikologis. Namun, ini harus dilakukan dengan kesadaran bahwa psikolog klinis bukan hanya tentang jumlah, tetapi juga tentang kompetensi dan tanggung jawab profesional.

Bagikan:

Berita Terkait

fde0e26b-9510-49a2-ac43-1e3257ebabeb-0

Menebas Gurita Patronase: Mengapa Korupsi Indonesia Gagal Diberantas

27 Jul 2026
1784744247_30de7800444454bf27f1

Masih Perlukah Novelty di Kampus?

23 Jul 2026
1784744570_3df14cb425b4ff607da6

Catatan Hari Anak Nasional: Membangun Resiliensi Digital Anak

23 Jul 2026

Komentar

Tinggalkan Komentar Batal

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Field yang wajib diisi ditandai *

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui kebijakan komentar kami.

Terpopuler

Berita Terbaru

0bbcbfd2-9ea7-4ce4-8b2e-22d8070be720-0

Kemenhub Pastikan Evakuasi Penumpang KM Mutiara Sentosa II Berjalan Aman

4 jam yang lalu
9a7cba22-e69e-4c64-ad89-563ed42c2180-0

Perkuat Kerja Sama Program Strategis dalam Pengelolaan Zakat, Pendidikan, hingga Layanan Sosial Kemanusiaan

4 jam yang lalu
69bf6d6b-c264-43da-98c0-e6d75348cfa8-0

Kapal Evakuasi Dikerahkan untuk Selamatkan Penumpang KMP Mutiara Sentosa 2 yang Terbakar

4 jam yang lalu
c80c8814-0d90-4730-9d00-9d2454df5536-0

Masjid Berpotensi Jadi Penggerak Transisi Energi Bersih melalui Wakaf Hijau

4 jam yang lalu
92952c96-d344-4970-961c-4ac81d8d5d78-0

Dinkes Mimika Perluas Skrining HIV-AIDS dan Akses Obat ARV

4 jam yang lalu

Kategori

  • Ekonomi (466)
  • Fashion (5)
  • Forum Mahasiswa (2)
  • Haji (28)
  • Hiburan (268)
  • Humaniora (824)
  • Internasional (429)
  • Jabar (81)
  • Jelita (19)
  • Kesehatan (7)
  • Kolom Pakar (5)
  • Kuliner (20)
  • Megapolitan (168)
  • Nusantara (568)
  • Olahraga (193)
  • Opini (73)
  • Otomotif (29)
  • Piala Dunia 2026 (264)
  • Politik Dan Hukum (252)
  • Sela (1)
  • Sepak Bola (484)
  • Teknologi (240)
  • Travelista (41)
  • Uncategorized (1)

About Us

Beritabaru1 menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.

Trending Post

  • Hello world!
  • Kemenhub Pastikan Evakuasi Penumpang KM Mutiara Sentosa II Berjalan Aman
  • Preview Ligue 1 Rennes vs Paris FC, Ambisi Tuan Rumah di Roazhon Park
  • Misi Psyche NASA Abadikan Foto Langka Mars Berbentuk Bulan Sabit
  • Preview Ligue 1 PSG vs Brest, Misi Wajib Menang untuk Les Parisiens

Quick Links

  • Ekonomi
  • Fashion
  • Forum Mahasiswa
  • Haji
  • Hiburan
  • Humaniora
  • Internasional
  • Jabar
  • Jelita
  • Kesehatan

Contact Us

Ready to get started? Contact us today!

  • Contact Us

Copyright © 2026 beritabaru1.com. All rights reserved.